MASUK malam, Rubber Boat disiapkan. Armia, Kepala BPBD, operator mesin, dua petugas, dan Ivan ikut dalam perjalanan paling berbahaya malam itu.
Tujuannya; Desa Paya Bedi — dataran tinggi satu-satunya yang masih memiliki kemungkinan akses ke radio amatir ORARI milik Ichsan (BNNK Aceh Tamiang), dengan callsign YB6CX.
Jika komunikasi tidak dipulihkan malam itu, bantuan bisa terlambat berhari-hari.
Rintangan Pertama; Log dan Balok Kayu Menghantam Boat
Belum jauh dari posko, suara BRUKKKK! memecah malam. Sebuah balok besar menabrak baling-baling. Kipas patah. Mesin tersendat.
Perahu mulai oleng. Arus menarik mereka ke bawah jembatan Kuala Simpang—tempat yang terkenal berarus memutar.
“Jangan panik! Beratkan sisi kiri!” seru Armia. Ivan dan petugas mencondongkan badan. Boat miring. Arus berusaha membalikkan mereka.
Operator mesin membuka penutup, memperbaiki poros baling-baling sambil setengah tenggelam.
Setelah hampir 8 menit bertarung, mesin kembali hidup [pelan], terbatuk-batuk, tapi hidup.
Di Bawah Jembatan; Detik-Detik Nyaris Terbalik.
KETIKA boat masuk ke bawah jembatan, arus bawah menyeretnya ke tengah pilar. Jika tersangkut, perahu akan terbalik.
“Gas! Gas pelan! Ikuti arus!” pekik Ivan. Pengalaman bertahun-tahun di sungai membuatnya paham arus Tamiang yang mematikan itu.




