Aktivitas perdagangan tersebut mendorong berkembangnya kawasan pelabuhan sebagai pusat pertukaran barang sekaligus tempat bertemunya berbagai budaya dari berbagai penjuru dunia.
Pertemuan Berbagai Peradaban
Pelabuhan Peureulak bukan sekadar tempat transaksi ekonomi. Bandar ini juga menjadi ruang interaksi sosial antara masyarakat lokal dengan pedagang dari berbagai bangsa.
Sejarawan menyebut para pedagang Arab dan Persia tidak hanya datang untuk berdagang, tetapi juga membangun permukiman sementara di sekitar pelabuhan. Sebagian di antaranya menikah dengan penduduk setempat, membentuk komunitas Muslim yang kemudian berkembang menjadi bagian penting dalam proses Islamisasi di Aceh.
Model penyebaran Islam melalui perdagangan dan hubungan sosial seperti ini juga ditemukan di berbagai wilayah pesisir Asia Tenggara. Karena berlangsung secara damai, agama Islam diterima secara bertahap oleh masyarakat lokal tanpa melalui ekspansi militer.
Catatan Musafir Asing
Keberadaan kawasan Peureulak dalam jaringan perdagangan internasional juga diperkuat oleh sejumlah catatan perjalanan asing.
Penjelajah asal Venesia, Marco Polo, yang singgah di Sumatra pada 1292, mencatat keberadaan komunitas Muslim di wilayah yang dikenal sebagai Ferlec atau Perlak. Meski catatannya tidak menjelaskan secara rinci aktivitas pelabuhan, informasi tersebut menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah menjadi bagian dari jalur pelayaran internasional pada akhir abad ke-13.




