Berada di Jalur Perdagangan Internasional
Sejak abad ke-7 hingga ke-13 Masehi, jalur pelayaran Asia menjadi urat nadi perdagangan dunia. Kapal-kapal dari Jazirah Arab, Persia, India, Sri Lanka, hingga Tiongkok memanfaatkan angin musim (muson) untuk berlayar membawa berbagai komoditas bernilai tinggi.
Dalam konteks itu, pesisir timur Aceh memiliki keunggulan karena berada di pintu masuk Selat Malaka dari arah barat. Kapal yang datang dari Samudra Hindia umumnya singgah di sejumlah bandar di Aceh sebelum melanjutkan perjalanan ke Semenanjung Malaya, Jawa, maupun Tiongkok.
Penelitian mengenai sejarah maritim Aceh menunjukkan bahwa kawasan Peureulak merupakan salah satu bandar yang berkembang karena didukung kondisi geografis yang relatif aman serta memiliki akses ke daerah pedalaman penghasil berbagai komoditas perdagangan.
Kayu Perlak, Komoditas Bernilai Tinggi
Nama “Peureulak” diyakini berasal dari pohon perlak (Diplospora sp.), sejenis kayu keras yang pada masa lampau banyak tumbuh di kawasan tersebut. Dalam sejumlah kajian sejarah, kayu ini dikenal memiliki kualitas tinggi sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan kapal.
Kebutuhan terhadap kayu berkualitas membuat Peureulak menjadi tujuan para saudagar asing. Selain kayu, masyarakat setempat juga memperdagangkan hasil hutan, rempah-rempah, damar, kapur barus, rotan, emas dari pedalaman Sumatra, serta berbagai hasil bumi lainnya.




