Mediaaceh.co.id – Jauh sebelum Selat Malaka menjadi salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia modern, kawasan pesisir timur Aceh telah memainkan peran penting dalam jaringan perdagangan internasional. Salah satu pelabuhan yang kerap disebut dalam kajian sejarah adalah Pelabuhan Peureulak, yang diyakini menjadi simpul perdagangan maritim sejak awal milenium pertama dan berkembang pesat seiring masuknya para pedagang Muslim dari Arab, Persia, India, hingga Tiongkok.
Dalam berbagai literatur sejarah, Peureulak tidak hanya dikenal sebagai pusat awal penyebaran Islam di Nusantara, tetapi juga sebagai bandar dagang yang menghubungkan dunia Timur dan Barat melalui jalur laut yang kini dikenal sebagai Jalur Sutra Maritim. Posisi geografisnya di pesisir timur Pulau Sumatra menjadikan wilayah ini sebagai tempat persinggahan strategis bagi kapal-kapal yang berlayar melintasi Samudra Hindia menuju Selat Malaka dan Laut Tiongkok Selatan.
Meski demikian, para sejarawan mengingatkan bahwa rekonstruksi sejarah Pelabuhan Peureulak harus didasarkan pada kombinasi sumber arkeologi, naskah klasik, dan catatan perjalanan asing. Banyak informasi mengenai aktivitas pelabuhan berasal dari tradisi historiografi Aceh yang kemudian diperkaya oleh penelitian akademik modern.




