ACEH TAMIANG, (MA) | ‘Kocek’ terdiam dipojok ruangan kedai kopi tempat dia biasa mangkal, diseputaran Kedai Besi, kecamatan Karang Baru, kabupaten Aceh Tamiang, sambil nyerput kopi pahit kegemarannya.
Kocek menanti teman akrabnya ‘Kulok’. Sudah dua jam Kocek nongkrong, dan kopi sudah dua gelas dilahapnya. Namun Kulok juga belum juga menyatroninya. “ada apa gerangan”, gumamnya dalam hati.
Rasa gelisah Kocek tak terbendung, manakala jarum jam sudah menunjukkan pukul 12:45 wib memasuki waktu zuhur dan makan siang. Kopi belum dibayar, sebab Kocek menanti Kulok berharap ada yang bayar kopi yang diminumnya.
Ada rasa heran dibenak Kocek, tak seperti biasa Kulok seperti ini, sebaliknya, malah Kulok yang lebih dulu hadir dikedai kopi favourite mereka ini, “ada apa ya”, tanya Kocek dalam hati.
Tak lama Kocek bergumam dalam hati, Kulok pun tiba dengan tergopoh gopoh tak seperti biasanya santai, “hai Cek udah lamo keeh, menanti ambee”, tanya Kulok, “Adelah dua jem lebeh, adee manye keh gerangan Lok?”.
Lalu Kulok duduk dan memesan kopi dingin, “cubee ceritee keuh ke aku Lok, adee manyee sebenarnye nie”, tanya Kocek dengan bahasa melayunya yang krntal. Tanpa ba…bi…bu Kulok pun menjelaskan kenapa dia datang terlambat.




