Feature | Syawaluddin
KUALASIMPANG (MA) – Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat ini sudah berusia 44 tahun. Mereka mengenang detik demi detik gerakan bersenjata karena ketidakadilan.
Kala itu, politik bedil berkumandang memekakkan genderang telinga. Saat bentrokan bersenjata pecah.
Konflik berkepanjangan di Aceh, menyisakan pilu yang mendalam, Anak kehilangan Ayah, Isteri kehilangan Suami dan sanak famili.
Masa lalu, konflik berkepanjangan di Aceh bukti sejarah, Aceh itu punya cerita heroik perlawanan bersenjata. Politik bedil saat itu lugas berbicara di Aceh.
Nama Teungku Abdullah Syafi’ie, dikenal seantero dunia, karena gaya kepemimpinannya yang santun dan bijaksana.
Dia disegani lawan, dihormati jajarannya, cerita tentang negosiasi politiknya mampu membuat pemerintah RI mengakui secara De Pakto keberadaan Gerakan Aceh Merdeka.
Nukilan, sempalan GAM itu, membawa perubahan peta politik di Aceh, saat senjata menyalak, merupakan ungkapan rasa ketidakadilan terjadi di Bumi Serambi Mekkah terhadap rakyat Aceh.
Ratusan ribu rakyat Aceh menjadi korban Politik Bedil, mereka meregang nyawa, salah atau tidaknya, mereka—para Syuhada—adalah korban dari konflik Aceh, antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah RI.





