Menelusur ‘Langkah Kaki’ Perambah Hutan Bakau di Muara Hilir Sungai Tamiang

Menelusur ‘Langkah Kaki’ Perambah Hutan Bakau di Muara Hilir Sungai Tamiang. [Foto Dok. | mediaaceh.co.id | Ilustrasi].

Luka Sosial-Ekologis di Pesisir

Bagi masyarakat pesisir, hutan bakau bukan sekadar pohon. Ia adalah penyambung hidup. Nelayan kecil kini mengaku hasil tangkapan menurun drastis. Udang dan kepiting yang biasanya mudah dijumpai di akar-akar bakau kini semakin sulit didapat.

Seorang warga Kuala Genting bercerita lirih, “Dulu, kalau sore, anak-anak bisa cari kerang di akar bakau. Sekarang tanahnya sudah jadi kebun sawit. Airnya keruh, ikan pun jauh berkurang.”

BACA JUGA...  Tim Penyidik Kejati Aceh Periksa Ketua BRA

Hilangnya mangrove juga berarti ancaman abrasi. Ombak laut kini menghantam tanpa penahan alami. Rumah-rumah warga berada dalam ketakutan baru; [tanah yang semakin tergerus].

Aktor di Balik Nama Poktan

Di balik nama manis [kelompok tani], sesungguhnya tersimpan kepentingan ekonomi. Modusnya sederhana; menguasai lahan, menanam sawit, lalu menjual hasilnya ke pasar. Nama Poktan dijadikan legitimasi seolah mereka petani kecil, padahal sebagian berperan sebagai pemain tanah yang menguasai ratusan hektar.

BACA JUGA...  Polres Aceh Selatan Periksa Senpi Anggota 

Hasil penelusuran LembAHtari bahkan menemukan dokumen dan bukti kuat keterlibatan oknum pengurus Poktan Bina Bangsa. Excavator yang dipakai pun ternyata milik pihak tertentu yang disewa untuk membuka puluhan hektar sekaligus.

Tekanan dari Sipil untuk Penegakan Hukum