Sawah terendam. Aktivitas ekonomi tersendat. Anak-anak kehilangan ruang belajar yang stabil.
Huntara menjadi simbol fase transisi. Ia bukan solusi akhir, tetapi penanda bahwa negara hadir.
Di hadapan Mendagri saat itu, Armia menyampaikan bukan hanya progres pembangunan, melainkan juga pesan moral; bahwa ribuan kepala keluarga menunggu kepastian.
ANGKA ITU KINI MENJADI UKURAN
LAPORAN itu mungkin terdengar administratif. Namun di baliknya ada kegelisahan yang nyata.
Empat ribu delapan puluh satu unit huntara. Angka itu kini menjadi ukuran komitmen negara terhadap korban bencana di Aceh Tamiang. Sebagian telah berdiri.
Sebagian masih dalam progres. Sebagian lainnya terhambat oleh kerumitan data.
Di ruang rapat yang berpendingin udara, angka-angka itu mungkin tampak rasional. Tetapi di tanah pengungsian, setiap angka adalah keluarga yang menanti.
Armia Pahmi memilih berbicara lugas, meminta percepatan, menjaga akurasi, dan memohon pengertian. Di tengah tarikan antara regulasi dan urgensi, ia mencoba berdiri di garis keseimbangan.
Sebab pada akhirnya, pemulihan bukan sekadar soal berapa unit yang terbangun, melainkan seberapa cepat harapan bisa kembali ditegakkan di atas fondasi yang sempat runtuh. []




