Me-review Program Pertanian Aceh Selatan  dalam Konteks BASAGA 

Oleh: Maslow Kluet

SEKITAR delapan bulan lalu, Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan (Pemkab Asel)  telah meluncurkan program Bajak Sawah Gratis (BASAGA).

Dalam kaitan itu,  sepatutnya diapresiasi. Karena, langkah tersebut dimaksudkan antara lain untuk menekan cost (biaya) produksi petani dalam menghasilkan Gabah Kering Giling (GKG).

Tetapi sebenarnya,  biaya produksi petani,  bukan hanya pada persoalan bajak membajak, tetapi juga masalah bibit dan  pupuk subsidi yang sering langka dipasaran.

BACA JUGA...  Pulau Pusong, Peluh dan Ikan Asin yang Bertahan

Sarana produksi (saprodi)  lainnya  seperti obat-obatan untuk memberantas  penyakit dan hama tanaman yang juga relatif mahal.

Belum lagi, biaya saat panen dan pasca panen.

Selain keterjaminan bibit, pupuk bersubsidi dan obat penyakit atau hama, tidak kalah pentingnya bagaimana menjamin ketersediaan air persawahan (irigasi tehnis/pedesaaan) adalah satu persoalan yang sangat pelik yang dihadapi petani dalam menyiapkan produksi padi. Sehingga, secara eksplisit, petani tidak terlalu bergantung kepada “bajak gratis”, karena faktanya, petani “tulen” tetap akan membajak lahannya untuk bersawah (bercocok tanam padi).

BACA JUGA...  ‎Asel Terima Bantuan  PLN UP3 Subulussalam

Pada bagian lain, pembangunan pertanian (padi sawah), bukan hanya untuk  mencapai target ketahanan pangan nasional,  tetapi juga adalah untuk  kesejahteraan petani melalui usaha pertaniannya.