May Day Aceh Tamiang 2026; Sawit, Buruh, dan Ketidakadilan yang Tak Boleh Lagi Dipelihara

Ilustrasi digital art

Sementara terkait dukungan kegiatan buruh, Plt. Sekda menyebut pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran melalui SKPK terkait dan meminta program kegiatan diajukan sesuai kebutuhan dan kemampuan APBD.

Dialog Tanpa Demonstrasi

KETUA DPRK Aceh Tamiang, Fadlon, menilai RDP tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam membuka ruang dialog bersama pekerja dan buruh secara konstruktif tanpa harus melalui aksi unjuk rasa.

BACA JUGA...  Buka Puasa Bersama dengan Buruh, Kapolri Sampaikan Kabar Gembira

Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, kepala SKPK, instansi vertikal, BUMN, BUMD, perusahaan swasta, pimpinan serikat pekerja dan serikat buruh, federasi serta konfederasi pekerja, organisasi kemasyarakatan, insan pers, hingga tamu undangan lainnya.

May Day 2026 di Aceh Tamiang menghadirkan pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar peringatan tahunan kaum pekerja.

BACA JUGA...  Satu dari Delapan Tahanan Pengadilan Melarikan Diri Usai Jalani Sidang

Forum itu menjadi cermin bahwa persoalan buruh masih menyisakan pekerjaan rumah yang serius, terutama di sektor perkebunan kelapa sawit yang menjadi salah satu penopang ekonomi daerah.

Di tengah upaya pemulihan pascabencana dan tekanan ekonomi masyarakat, tuntutan terhadap perusahaan agar lebih adil kepada pekerja semakin menguat.

Buruh tidak lagi hanya menuntut upah, tetapi juga penghormatan terhadap hak-hak dasar mereka sebagai manusia dan sebagai bagian penting dari roda pembangunan daerah.