Kemudian masyarakat kampung akan membayar harga daging makmeugang itu, setelah panen tahun depan (bayeue lheuh keumuekoh thon ukeue). Sehingga, orang kampung yang kurang mampu membeli daging pada hari meugang tidak berpikiran lagi.
Karena, untuk kebutuhan daging makmeugang audah ditanggung sementara, oleh orang kaya dalam kampung itu yang daging itu bisa dibayar setelah panen tahun depan. Dan ini sangat terbantu fakir miskin di kampung-kampung di Aceh dahulu.
Kemudian, dahulu seorang Keuchik belum bisa tidur pada malam makmuegang, kalau masih ada warga kampungnya yang hana mupat sie lom singeh uroe makmuegang (Belum nampak ada daging hari motong besok). Biasanya, Keucik mendatangi keluarga miskin dalam kampungnya, menanyakan apa sudah ada daging untuk hari makmeugang besok.
Kalau ada diantara warga kampung yang kurang mampu untuk membeli daging makmeugang, maka Keuchik akan menanggung daging makmeugang untuk keluarga miskin itu. Begitulah peran Keuchik dalam sebuah Gampong di Aceh dulunya. Begitulah istimewanya hari makmeugang bagi orang Aceh. (*).




