​Kritik Denny Charter: Kesepakatan Dagang RI-AS Disetir Kepentingan Amerika

​1. Risiko Overcapacity dan Beban Utang Baru Penugasan kepada Danantara untuk membeli 50 pesawat Boeing dianggap sebagai langkah spekulatif. Denny menyoroti bahwa industri penerbangan pasca-pandemi beroperasi dengan margin yang sangat tipis.

​”Memaksa maskapai BUMN menelan 50 pesawat baru secara tiba-tiba akan menyebabkan kelebihan pasokan kursi yang merusak yield pendapatan. Ini bukan ekspansi, tapi beban perawatan dan depresiasi aset yang menganggur. Di tengah suku bunga global yang tinggi, beban bunga utang untuk pembelian ini bisa menghancurkan upaya penyehatan neraca keuangan Garuda Indonesia,” tegas Denny.

BACA JUGA...  Sejak 2018, Dinsos Aceh Tangani 36 Kasus Bayi Terlantar di Aceh

​2. Inefisiensi Energi dan ‘Anomali’ Impor
Indonesia saat ini memiliki surplus pasokan gas di wilayah domestik seperti Blok Masela dan Tangguh. Denny mempertanyakan urgensi mengimpor LNG dari AS yang secara logistik jauh lebih mahal dibanding pasokan regional atau domestik.

​”Ini adalah inefisiensi yang dipaksakan secara politis. Jika Pertamina atau PLN harus membeli energi mahal dari AS, pilihannya hanya dua: inflasi meroket karena dibebankan ke rakyat, atau APBN jebol melalui dana kompensasi energi. Ini juga bertolak belakang dengan agenda transisi energi (JETP) kita,” tambahnya.