Peringatan Keras Denny Charter: Danantara Bisa Matikan Kompetesi Sektor Swasta 

Presiden Republik Indonesia H. Prabowo Subianto.

JAKARTA | MA Pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai memicu diskusi hangat di kalangan pengamat ekonomi dan tokoh politik. Meski digadang-gadang sebagai langkah transformasi menuju penguatan aset negara layaknya Temasek di Singapura, pembentukan super-holding ini dinilai menyimpan risiko struktural yang besar jika tidak dikelola dengan transparansi tinggi.

BACA JUGA...  Penuhi Undangan Kasat Reskrim, YE Klarifikasi dan Bantah Isu Pemerasan

Di tengah upaya memperkuat daya saing BUMN, kekhawatiran mengenai pemusatan kontrol ekonomi dan potensi matinya kompetisi sektor swasta menjadi sorotan utama yang membayangi arah kebijakan ekonomi nasional ke depan.

​Wakil Ketua Umum Pimpinan Nasional Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Denny Charter, memberikan “lampu kuning” terkait potensi munculnya fenomena Etatisme Ekonomi di Indonesia.

BACA JUGA...  Politisi Partai Aceh Bukhari Serahkan Bantuan Masa Panik untuk Korban Kebakaran di Baktiya

Menurutnya, rasio aset BUMN Indonesia saat ini sudah berada di level yang sangat signifikan, yakni mencapai kisaran 50% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

​”Data menunjukkan aset BUMN kita mencapai ±Rp10.400 Triliun berbanding PDB yang sekitar ±Rp20.892 Triliun. Ini menandakan Indonesia berada pada posisi State Capitalism (Kapitalisme Negara) yang cukup tebal, mirip dengan Vietnam, dan hanya kalah ekstrem dari China,” ujar Denny Charter dalam keterangannya kepada media, Minggu, 18/1/2026.