KETIKA RUMAH HILANG, UANG TAK BERMAKNA

DISURUH KELUAR DARI TENDA

ANDRE (Warga Kampung Banjir);

“Dengan Rp1.800.000, kami disuruh keluar dari tenda dan mencari rumah. Itu tidak realistis. Kami butuh hunian, bukan uang.”

SUPARMIN (Penyintas Bencana);

“Yang kami butuhkan hari ini tempat tinggal. Di Aceh Tamiang, rumah sewa Rp6 juta per tahun saja sulit dicari, apalagi Rp1,8 juta untuk tiga bulan.”

REKY (Warga Terdampak);

“DTH bukan solusi, tapi masalah baru. Kami tahu Pemkab sudah bekerja maksimal, tapi kebijakan ini datang dari pusat dan tidak sesuai kondisi lapangan.”

HIDUP BERJALAN KETIDAKPASTIAN

BACA JUGA...  Capaian Rendah, Forpincam Genjot Vaksinasi di Kampung Paya Awe

DI TENDA-TENDA pengungsian Aceh Tamiang, hidup berjalan dalam ketidakpastian. Anak-anak tumbuh tanpa kamar, tanpa meja belajar, tanpa ruang aman.

Orang tua kehilangan rumah, kehilangan pekerjaan, dan kini dihadapkan pada kebijakan yang tidak menjawab kebutuhan paling dasar; tempat tinggal.

Dana Tunggu Hunian mungkin lahir dari niat baik birokrasi, tetapi tanpa hunian nyata, ia hanya menjadi angka di laporan.

BACA JUGA...  DAS TAMIANG DALAM KEPUNGAN SEDIMENTASI; DUA DEKADE KEGAGALAN NEGARA MENGELOLA SUNGAI

Di hadapan bencana sebesar Aceh Tamiang, negara dihadapkan pada pilihan fundamental; membangun rumah atau membagi uang.

Dan bagi para penyintas, jawabannya sederhana dan jujur; “Kami butuh hunian, bukan uang.” [].