Ketika Pena Dituduh Berdusta

Ketika Pena Dituduh Berdusta. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Digital Art].

Satu demi satu komentar bermunculan, bukan sekadar amarah, tapi ungkapan luka.

“Pelecehan profesi wartawan secara gamblang diutarakan oleh manusia sinting ini ke publik,” tulis Zacky, wartawan. “Hati kami tersayat, terutama mereka yang pernah bertugas di masa konflik, mempertaruhkan nyawa demi kebenaran.”

Di masa konflik Aceh, banyak dari mereka menulis berita dengan kepala menunduk di bawah desingan peluru.

BACA JUGA...  ‘Belajar Jadi Datok’; Cerita ‘Marut’ dari Sumber Makmur

Nama-nama seperti Imran Joni, Fajri Bugak, hingga Rusmadi, adalah saksi hidup bagaimana berita pernah ditulis dari parit-parit ketakutan. Kini, di masa damai, mereka justru diserang oleh video pendek yang ditonton ribuan orang tanpa konteks.

Tuduhan yang Menyakitkan

Ketua PWI Aceh, Nasir Nurdin, menerima kabar itu dengan wajah tegang. “Itu tuduhan yang sangat menyakitkan,” ujarnya didampingi Wakil Ketua Bidang Advokasi, Azhari. “Kami berharap tuduhan itu bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.”

BACA JUGA...  Tangan yang Mengubah Air Mata Jadi Senyum

Namun di balik nada tegasnya, tersimpan keprihatinan mendalam. Nasir tahu, pelecehan terhadap wartawan bukan sekadar soal harga diri, tetapi juga soal hilangnya penghormatan publik terhadap profesi pencari kebenaran.

Menurutnya, sosok di video itu “tidak punya pengetahuan yang cukup tentang wartawan.”

“Pengetahuan Anda tentang wartawan sangat dangkal, bahkan nyaris tidak ada. Kalau Anda menuduh wartawan tak bisa dipercaya, mungkin Anda pernah berurusan dengan wartawan gadungan,” tegasnya. “Karena musuh utama seorang wartawan profesional adalah kebohongan.”

Terikat Undang-Undang, Bukan Emosi