Ketika Pena Dituduh Berdusta

Ketika Pena Dituduh Berdusta. [Foto Dok | mediaaceh.co.id | Digital Art].

Saran Joni ditanggapi dengan komentar “setuju” oleh Fajri Bugak, wartawan di Bireuen, Rusmadi di Banda Aceh, dan Nono Tarigan di Medan.

Ifan Tarigan, Pengurus PWI Aceh Selatan menimpali, “Buat somasi kepada pihak yang menuduh berisi permintaan klarifikasi atau permintaan maaf secara tertulis.”

Masih dari Aceh Selatan, Masluyuddin berkomentar, “Teungku nyoe goh abeh dijep ubat sang. Haba jih dari masa kacau balau (konflik) sampe jinoe secara general. Peureulee ta peuteupat teungku nyoe, ta upgrade ileumee jih.”

BACA JUGA...  JKA: Ibarat Buah Simalakama

Antara Layar dan Luka

Di masa lalu, wartawan Aceh menulis berita di tengah bau mesiu dan mayat yang belum sempat dikafani. Di masa kini, mereka masih berjuang, tapi musuhnya bukan lagi peluru, melainkan kata-kata yang disebar di layar ponsel.

Di zaman ketika jari bisa lebih tajam dari senjata, fitnah lebih mudah viral daripada fakta, dan kejujuran makin kehilangan ruang [profesi wartawan seharusnya dihormati, bukan dicaci].

BACA JUGA...  PEMULIHAN YANG MENUNGGU KEPUTUSAN

Karena tanpa wartawan, tak akan ada yang mencatat kebenaran. Dan tanpa kebenaran, tak ada lagi yang bisa dipercaya. [].