“Ini sedikit saja, Bang. Tapi semoga membantu,” ucap Muklis, dari SRM, saat menyerahkan paket sembako kepada seorang ibu yang menggendong anaknya dan hanya membalas dengan doa.
- Malam Ketika Jalan Menjadi Doa
KETIKA empat Jeep menembus malam pada 6 Desember 2025 lalu, medan malam di perlintasan Sumatera berubah menjadi panggung kepedulian. Empat unit Jeep [berbadan kekar, berlampu tembus gelap, dan penuh muatan Sembilan Bahan Pokok] bergerak pelan dari Medan menuju Aceh Tamiang.
Di balik kemudi, para anggota Jeep Adventure Club (JAC) Indonesia dan Siskiu Riders Medan (SRM) mengencangkan napas.
“Bismillah, semoga tidak ada halangan,” gumam Anto, koordinator rombongan, sambil memandang konvoi itu seperti kawanan kecil yang sedang memasuki rimba bencana.
Muatan di belakang mereka sederhana; beras, minyak goreng, gula, teh, mie in
Namun air bah; yang oleh orang Tamiang disebut [Ie Beuna dalam bahasa Aceh] sederhana itu bisa menjadi penyangga hidup.
Malam pekat menyelimuti perbatasan Medan–Langkat. Tidak ada sorot lampu dari warung, tidak ada suara kendaraan dari arah berlawanan.
Hanya suara mesin Jeep menggeram, menandai perjalanan yang tak sekadar pengantaran bantuan; tetapi ziarah kemanusiaan.




