KETIKA EMPAT JEEP MENEMBUS MALAM

Ketika Jeep Menembus Malam Pekat.

Kampung Lama, Wajah Penderitaan Pertama.

SETELAH dua jam menembus genangan sisa banjir bandang, rombongan tiba di Kampung Lama, Besitang. Dari kejauhan terlihat bayangan rumah-rumah yang dindingnya mengelupas, suara anak-anak batuk, dan ayunan lampu emergency yang menggantung pada seutas tali serat kelapa.

“Turun dulu. Kita kasihkan ini,” perintah Anto.

Dus-dus bantuan diseret keluar; satu paket untuk satu keluarga. Masyarakat yang mendekat wajahnya tak lagi mengenal warna; tanah, lumpur, dan air bercampur menjadi topeng ketahanan. Mereka tidak bertanya banyak, tidak meratap panjang. Hanya mata berkaca-kaca dan anggukan yang lebih fasih dari kata-kata.

BACA JUGA...  UMK tak Sebanding, Enam Ratus Kaum Buruh Acam Gelombang Demo

Ini sedikit saja, Bang. Tapi semoga membantu,” ucap Muklis, dari SRM, saat menyerahkan paket sembako kepada seorang ibu yang menggendong anaknya dan hanya membalas dengan doa.

Rombongan segera kembali naik Jeep. Di depan, genangan air terlihat seperti telaga gelap tak berujung.

Gerbang Aceh dan Aroma Kehancuran.

SEMAKIN dekat ke perbatasan Sumatera Utara–Aceh, udara berubah. Angin mengangkat bau lumpur yang menyengat, seolah membawa pesan dari tanah yang sedang terluka.

BACA JUGA...  Personel Brimob Disiagakan untuk Antisipasi Dampak Banjir

“Saya tidak pernah lihat bencana sedahsyat ini,” lirih Anto. “Ini… luar biasa,” sambung seorang lainnya.

Ketika Jeep memasuki Seumadam, keterkejutan itu mencapai puncak. Jalan negara menganga seperti tubuh tersayat. Lapisan aspal terkelupas, menyisakan mulut-mulut jalan yang terbelah.