Bencana tersebut menghentikan aktivitas produksi, tetapi pemulihan kemudian ditetapkan sebagai target utama.
Manajemen Pertamina EP Rantau Field menyusun waktu pemulihan sekitar enam bulan, setelah sebelumnya terdapat perkiraan bahwa pemulihan operasi dapat berlangsung satu hingga tiga tahun.
Memasuki bulan kelima setelah banjir, sumur-sumur produksi yang sebelumnya berhenti mulai kembali dioperasikan. Produksi awal pascabanjir sebesar 1.700 barrel per hari.
Pemulihan operasi berjalan bersamaan dengan program pemberdayaan masyarakat, termasuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, lingkungan, serta penguatan kelompok masyarakat dalam menghadapi bencana.
Operasi Terhenti, Akses Terputus
FIELD Manager Pertamina EP Rantau Field, Tomi Wahyu Alimsyah, menjelaskan bahwa dampak banjir tidak hanya terjadi pada lingkungan sekitar fasilitas perusahaan, tetapi juga langsung mengenai wilayah operasi.
Pada 26 November 2025, kompleks Pertamina Rantau berada dalam kondisi terisolasi.
Akses keluar melalui Bukit Suling tidak dapat digunakan setelah terjadi longsor. Jalur lainnya menuju Upah juga mengalami gangguan karena pohon tumbang dan kondisi jembatan yang hampir sejajar dengan permukaan air.
Kondisi tersebut menyebabkan pergerakan keluar dan masuk kompleks tidak dapat dilakukan seperti biasa.
“Pada tanggal 26 tersebut, kami sebenarnya seperti terisolasi. Akses keluar ada dua jalan. Jalan pertama melalui Bukit Suling, tetapi mengalami longsor. Jalan kedua melalui Upah, di sana juga ada pohon tumbang dan jembatannya hampir sejajar dengan air,” kata Tomi.
Situasi berlangsung sejak 26 November hingga beberapa hari berikutnya.
Penulis : Syawaluddin
Editor : Syawaluddin Ksp
Sumber Berita: Pertamina EP Rantau Field
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Selanjutnya















