Setelah banjir, produksi turun menjadi nol.
Berhentinya produksi terjadi karena sejumlah fasilitas dan sumur terdampak banjir. Pemulihan tidak dapat dilakukan hanya dengan membuka kembali akses menuju lokasi.
Infrastruktur pendukung dan fasilitas produksi harus diperiksa, diperbaiki, dan dioperasikan kembali secara bertahap.
Dalam kondisi tersebut, terdapat perkiraan bahwa pemulihan operasi membutuhkan waktu antara satu hingga tiga tahun.
Manajemen Pertamina EP Rantau Field kemudian menetapkan target pemulihan yang lebih cepat.
Target tersebut disusun dalam waktu sekitar enam bulan.
Tomi menjelaskan, perusahaan membuat tahapan pemulihan untuk mengembalikan fungsi fasilitas dan menghidupkan kembali sumur-sumur produksi yang sebelumnya berhenti.
“SKK Migas memprediksi bahwa Pertamina EP Rantau mungkin memerlukan waktu satu sampai tiga tahun. Kami kemudian mencoba menjawab tantangan itu dengan membuat target pemulihan dalam enam bulan,” kata Tomi.
Proses tersebut dilakukan secara bertahap.
Memasuki bulan kelima, sumur-sumur produksi yang sebelumnya berhenti akibat banjir sudah dapat dihidupkan kembali.
Produksi yang sempat berada pada angka nol mulai meningkat secara bertahap.
Menurut Tomi, produksi pada satu periode bahkan sempat mencapai tingkat di atas kondisi sebelum banjir. Namun, setelah itu produksi kembali mengalami penyesuaian.
Penulis : Syawaluddin
Editor : Syawaluddin Ksp
Sumber Berita: Pertamina EP Rantau Field
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Selanjutnya















