“Pembangunan ini bukan sekadar menghadirkan bangunan, tetapi bagian dari upaya menyediakan hunian yang layak dan bermartabat bagi masyarakat terdampak bencana.”
[Rahmadina Alya]
- Hunian sementara tak lagi sekadar tempat berteduh, tetapi menjadi ruang pemulihan yang menghadirkan kenyamanan, martabat, dan harapan bagi penyintas banjir bandang.
AIR DATANG tanpa aba-aba. Dalam hitungan jam, banjir bandang meluluhlantakkan rumah, memutus rutinitas, dan menyisakan trauma bagi warga Aceh Tamiang.
Di tengah kehilangan itu, satu per satu harapan mulai dibangun kembali [bukan hanya dalam bentuk bantuan, tetapi juga melalui hadirnya hunian sementara (huntara) yang layak, manusiawi, dan penuh perhatian terhadap kebutuhan dasar penyintas].
PAGI ITU, aktivitas di kawasan huntara Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru, mulai menggeliat. Anak-anak berlarian di antara deretan bangunan modular, sesekali terdengar tawa yang sebelumnya sempat hilang sejak bencana melanda.
Di sudut lain, beberapa ibu terlihat membersihkan halaman kecil di depan hunian mereka, sementara para pria berdiskusi ringan tentang pekerjaan yang mulai mereka rintis kembali.
Pemandangan tersebut menjadi potret perubahan yang perlahan namun pasti terjadi sejak pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bersama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WiKA) membangun hunian sementara bagi warga terdampak banjir bandang.





