Di Balik Huntara WiKA, Harapan Baru Warga Aceh Tamiang Tumbuh

Di tengah keterbatasan, hal-hal kecil seperti udara yang tidak terlalu panas menjadi faktor penting dalam menjaga kondisi fisik dan mental.

Tak hanya soal bangunan, kawasan huntara juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung. Mushola berdiri sebagai pusat aktivitas spiritual sekaligus sosial. Di sana, warga tidak hanya beribadah, tetapi juga saling menguatkan melalui interaksi sehari-hari.

Sistem sanitasi juga menjadi perhatian utama. Fasilitas mandi, cuci, dan kakus disediakan secara terpisah antara laki-laki dan perempuan. Air bersih dialirkan melalui jaringan perpipaan serta didukung sumur yang telah disiapkan.

BACA JUGA...  Menyemai Harapan di Jakarta; Langkah Strategis Bupati Aceh Tamiang Menguatkan Sektor Pertanian

Sementara itu, limbah dikelola menggunakan instalasi pengolahan berbasis biotech dengan kapasitas 5 meter kubik per blok.

Bagi warga yang sebelumnya kehilangan akses terhadap sanitasi yang layak, kehadiran fasilitas ini menjadi perubahan besar.

Tidak hanya meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga mengurangi risiko penyakit yang kerap muncul pascabencana.

Di sisi lain, penataan lingkungan juga dilakukan dengan pendekatan yang terencana. Kontur tanah diolah melalui sistem terasering untuk menjaga stabilitas lahan.

BACA JUGA...  Di Balik Dentuman Senjata, Menjaga Ketangkasan dan Jiwa Prajurit Lilawangsa

Setiap kavling hunian dilengkapi ruang terbuka hijau, menciptakan suasana yang lebih asri dan tidak terkesan kumuh seperti yang kerap diasosiasikan dengan hunian darurat.

“Kami ingin memastikan bahwa warga tidak hanya memiliki tempat tinggal, tetapi juga lingkungan yang layak,” kata Rahmadina.

Perubahan yang terjadi di kawasan huntara tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga sosial. Interaksi antar warga mulai kembali terbangun. Anak-anak memiliki ruang untuk bermain dan belajar. Orang tua mulai menata kembali kehidupan, meski perlahan.