Dari Angka ke Asa; Jejak Riki dan Estafet Harapan Iboy untuk Kuala Penaga

Gedung serbaguna, kamar mandi kantor desa, dan pengerasan jalan kampung.

Lapangan badminton dan volley untuk pemuda.

Tower air bersih, TPA dan tempat wudhu, hingga rehab masjid dan jembatan Bailey.

Lumbung padi, gedung BUMK, dan lampu penerang jalan.

Program ekonomi kecil seperti budidaya ikan lele dan penanaman jagung.

BACA JUGA...  Ketika Kepedulian Menyapa dari Pintu Pabrik

Pembagian BLT hingga pengadaan tenda kegiatan masyarakat.

“Kalau mau membangun kampung, jangan banyak bicara. Diam, tapi berbuat. Pikir, lalu bertindak,” tegasnya.

Kini, di akhir masa baktinya, ia menyerahkan tongkat estafet pembangunan kepada sosok yang ia percayai; abangnya sendiri [Iboy].

Estafet Harapan; Ketika Iboy Melangkah

Di dermaga nelayan Kuala Penaga, Riki menatap kapal-kapal kecil yang berlabuh. Di antara suara ombak, ia berbisik lirih, “Saya berharap Iboy bisa melanjutkan perjuangan ini.”

BACA JUGA...  HUNTARA YANG BELUM MENJADI HUNIAN

Iboy bukan orang baru bagi masyarakat Kuala Penaga. Lahir dan besar di tanah yang sama, ia tahu betul denyut kehidupan kampungnya. Lahir pada 3 November 1985, anak ketiga pasangan Rusli Yusuf dan Siti Badriah ini tumbuh di tengah kerasnya hidup sebagai anak nelayan dan petani.

Dari kecil saya sudah tahu kerasnya hidup di sini. Karena itu, saya tahu apa yang benar-benar dibutuhkan warga, bukan sekadar apa yang ingin mereka dengar,” katanya sambil menatap hamparan sawah yang menguning di kejauhan.