“Kalau jembatan itu terwujud, bukan hanya ekonomi yang bergerak, tapi hati warga pun akan lebih dekat.”
[Iboy Calon Datok Penghulu Kuala Penaga 2025–2031].
DI TEPI muara Kuala Penaga, riak air sungai tampak tenang sore itu. Hembusan angin membawa aroma garam dan lumpur, seolah menjadi saksi diam perjalanan panjang dua bersaudara yang mencintai tanah kelahirannya dengan cara yang berbeda; Riki dan Iboy.
Jejak Riki; Dari Angka ke Bangunan.
Riki Rikardo masih ingat betul masa awal ia menjabat sebagai Datok Penghulu Kampung Kuala Penaga periode 2020–2025. Di tangannya, tumpukan berkas berisi angka dan rencana pembangunan seolah menjadi kitab yang tak pernah lepas dari pandangan.
“Angka-angka itu bukan sekadar laporan. Itu cermin kepercayaan warga yang harus diwujudkan,” katanya sambil tersenyum, mengenang awal pengabdiannya.
Kini, masa jabatannya telah usai di pertengahan tahun 2025. Namun bagi Riki, berakhirnya masa tugas bukan berarti berakhirnya perjuangan. Ia percaya, pengabdian kepada kampung tidak berhenti di meja pemerintahan.
“Demisioner bukan berarti berhenti berbuat. Saya tetap ingin membangun, dengan cara apa pun yang bisa saya lakukan,” ujarnya pelan.
Selama lima tahun kepemimpinannya, Riki memulai dari nol [dari angka di atas kertas hingga berdiri bangunan nyata di tanah Kuala Penaga];




