HUKOM  

BUMD Jadi Sarang Korupsi

SERANG | MA — Tata kelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Provinsi Banten kembali menjadi sorotan tajam. PT Agrobisnis Banten Mandiri (ABM) kini terjerat dalam dua persoalan krusial, dugaan korupsi pengadaan minyak goreng senilai Rp 20,4 miliar yang telah masuk ke meja hijau, serta ketidakjelasan penggunaan dana penyertaan modal senilai Rp 60 miliar dari APBD Banten.

BACA JUGA...  Lagi Asyik Main Judi Online di Mobil Kopi, Dua Pemuda Tanah Luas di Tangkap Polisi 

Dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Serang (Kamis, 5 Maret 2026), Jaksa Penuntut Umum mendakwa eks Plt Direktur Utama PT ABM, Yoga Utama, melakukan pengadaan minyak goreng fiktif sebanyak 1.200 ton.

Fakta persidangan mengungkap aliran dana tersebut diduga mengalir ke sedikitnya 11 pihak, termasuk Direktur PT Karyacipta Agromandiri Nusantara (KAN), Andreas Andrianto Wijaya, yang kini berstatus terdakwa.

BACA JUGA...  Selama Ditahan Di Mako Brimob, Ustaz Alfian Tanjung Dilarang Sholat Jum'at

Kritik Keras Atas Kegagalan Tata Kelola

Koordinator Penerus Banten, Egi Hendrawan, menilai kondisi PT ABM bukan sekadar masalah operasional, melainkan kegagalan sistemik dalam pengelolaan BUMD. Ia menegaskan bahwa skandal ini mencerminkan lemahnya Good Corporate Governance (GCG) yang berujung pada kerugian negara yang nyata.

“Fakta bahwa modal Rp 60 miliar raib tanpa jejak kontribusi ekonomi bagi Banten adalah tamparan keras bagi eksekutif, juga kasus korupsi yang menjerat petinggi BUMD ABM. Jika perusahaan yang didirikan untuk ketahanan pangan justru menjadi instrumen penggelapan dana publik, maka tidak ada alasan lagi untuk mempertahankannya. Pemerintah Provinsi jangan hanya melakukan ‘bersih-bersih’ manajemen, tapi harus berani mengambil langkah radikal: bubarkan saja PT ABM,” ujar Egi Hendrawan dalam keterangannya, Jumat (06/03).