Dari tempat itu, lahir sebuah komitmen untuk tidak lagi membiarkan suara muda tenggelam di antara deru politik yang sering kali berjarak.
Di bawah sinar lampu yang menerangi kafe sederhana itu, mereka—generasi muda Langsa—berjanji bahwa malam ini hanyalah awal dari langkah besar yang akan mereka ambil.
Di akhir pidato, Irfansyah menutup dengan kata-kata yang terus terngiang di benak semua yang hadir, “Ingatlah, kita bukan hanya memilih. Kita berjuang. Dan kita tidak akan pernah berhenti, sampai Aceh benar-benar berdiri mandiri.”
Malam itu, Langsa Baro yang sepi menjadi terang oleh cahaya semangat anak-anak mudanya.
Mereka pergi dari Warkop Ampon Kupi dengan tekad yang mengakar, menyadari bahwa di tangan merekalah masa depan Aceh bertumpu. [Umar Hakim].















