“Ketika ekosistem pulih, peluang kesejahteraan masyarakat juga ikut tumbuh,” ujarnya.
[Kasto Wahyudi].
SETELAH pernah terlibat dalam penebangan hutan bakau di pesisir Langkat, Kasto Wahyudi berbalik arah menjadi pelopor rehabilitasi mangrove.
Upayanya selama belasan tahun kini menghidupkan kembali ekosistem pesisir sekaligus membuka sumber ekonomi baru bagi warga.
HAMPARAN mangrove yang kembali hijau di pesisir Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, menyimpan perjalanan panjang tentang kerusakan, penyesalan, dan pemulihan.
Di kawasan itu, Kasto Wahyudi menjadi saksi sekaligus pelaku dari dua fase berbeda [ketika hutan bakau ditebang untuk kebutuhan ekonomi, hingga masa ketika ia memilih memperbaiki kerusakan yang pernah ditimbulkannya].
Angin laut berembus pelan di pesisir Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Deretan mangrove yang tumbuh rapat berdiri di sepanjang garis pantai.
Suara burung air terdengar bersahutan di antara rimbunnya dedaunan hijau.
Di kawasan itu, Kasto Wahyudi berdiri memandang hutan mangrove yang kini kembali tumbuh lebat. Baginya, kawasan tersebut menyimpan jejak masa lalu yang tidak mudah dilupakan.
“Saya sudah 15 tahun fokus menanam mangrove. Ini cara saya menebus kesalahan pada masa lalu,” kata Kasto kepada wartawan, belum lama ini.
Pada masa lalu, Kasto mengaku pernah terlibat dalam aktivitas penebangan mangrove untuk kebutuhan produksi arang bakau. Aktivitas tersebut saat itu menjadi salah satu sumber penghasilan masyarakat pesisir.




