MENGEJAR NORMALITAS DI TENGAH LUMPUR

[Foto Ilustrasi Digital Art/mediaaceh.co.id/Awelatam].

“Kami tidak ingin ada satu pun anak Aceh Tamiang kehilangan hak belajarnya hanya karena bencana. Sekolah darurat adalah solusi sementara. Fokus kami adalah percepatan rehabilitasi, pemulihan mutu, dan membangun sekolah yang lebih aman dari sebelumnya.”

[Drs. Sepriyanto, Kadisdik Aceh Tamiang].

  • Percepatan Pembelajaran Pasca Bencana di Aceh Tamiang
BACA JUGA...  Kapten Nunu Rukmana Awasi Pelaksanaan Vaksinasi di Kejuruan Muda

KETIKA SEKOLAH TINGGAL RANGKA

PAGI ITU, suara anak-anak tak lagi terdengar dari ruang kelas. Yang tersisa hanyalah dinding retak, bangku terbalik, dan lumpur setebal betis yang mengering di lantai sekolah.

Banjir ekologis yang membawa gelondongan kayu menghantam sebagian besar wilayah Aceh Tamiang. Hampir 80 persen gedung sekolah rusak [sebagian berat, sebagian tak lagi bisa difungsikan].

BACA JUGA...  Warga di Dusun Bahagia Masih Tinggal di Tenda, Masri: Huntara Belum Bisa Ditempati 

Ruang belajar berubah menjadi puing. Buku hanyut. Arsip administrasi hilang. Di sejumlah titik, papan tulis masih berdiri, tapi tanpa atap.

Di tengah situasi itu, Dinas Pendidikan Aceh Tamiang menghadapi satu pertanyaan mendesak [bagaimana mengejar ketertinggalan pembelajaran sebelum generasi ini kehilangan masa depannya?].

SEKOLAH TENDA [DARURAT ATAU PILIHAN?]

DI BEBERAPA kecamatan terdampak, tenda-tenda darurat mulai berdiri. Meja plastik dan kursi lipat menggantikan bangku kayu. Anak-anak belajar dengan suara generator sebagai latar.