Sekolah tenda menjadi pilihan cepat agar proses belajar tak berhenti total. Namun solusi ini bukan tanpa persoalan. Cuaca panas, hujan yang sewaktu-waktu datang, serta keterbatasan sanitasi membuat proses belajar jauh dari ideal.
Meski begitu, Dinas Pendidikan menilai sekolah darurat adalah langkah transisional yang tak bisa dihindari.
Dalam situasi krisis, menjaga kesinambungan pembelajaran lebih penting daripada menunggu ruang kelas permanen selesai dibangun.
‘LEARNING LOSS‘ YANG MENGINTAI
GANGGUAN pembelajaran selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan membuka risiko learning loss [penurunan capaian literasi dan numerasi yang sulit dipulihkan jika dibiarkan terlalu lama].
Guru-guru kini dituntut melakukan asesmen diagnostik sederhana untuk memetakan ketertinggalan siswa. Prioritas pembelajaran dipersempit pada kompetensi esensial; membaca, menulis, berhitung, dan pemahaman dasar.
Sejumlah kepala sekolah mengakui, tantangan terbesar bukan hanya kerusakan fisik, tetapi kondisi psikologis siswa. Trauma akibat banjir membuat konsentrasi belajar terganggu.
ANTARA ANGGARAN DAN REALITAS LAPANGAN
PEMULIHAN pendidikan tak bisa dilepaskan dari persoalan anggaran. Rehabilitasi sekolah membutuhkan dana besar, sementara kemampuan fiskal daerah terbatas.




