“Kalau malam hujan deras, kami tidak bisa tidur. Anak-anak menggigil. Kami cuma ingin tempat yang lebih aman, walau sederhana,” ujar Rahmawati lirih.
- Ribuan penyintas banjir di Aceh Tamiang masih bertahan di tenda. Pembangunan hunian sementara diduga terhenti, sementara jawaban tak kunjung datang.
ANGIN sore berembus pelan di sela-sela terpal yang mulai kusam. Di sebuah tenda di Kecamatan Rantau, seorang ibu menanak nasi dengan kompor kecil. Asap tipis mengepul, bercampur bau lembap tanah yang belum sepenuhnya kering sejak banjir besar November 2025 lalu.
Sudah lebih dari tiga bulan berlalu. Air memang telah surut, tetapi kehidupan belum sepenuhnya pulih.
Di sejumlah titik Kabupaten Aceh Tamiang, ratusan keluarga masih tinggal di tenda darurat [menunggu hunian sementara (huntara) yang tak kunjung rampung].
Di tengah penantian itu, beredar kabar bahwa pembangunan huntara yang dikerjakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diduga dihentikan sementara.
Tidak ada pengumuman terbuka. Yang ada hanya rangka kayu berdiri setengah jadi dan material yang terdiam di lokasi.
DI BAWAH TERPAL YANG MENUA
DI KECAMATAN Sekerak, belasan titik pembangunan huntara tampak sunyi. Kayu-kayu sudah terpasang sebagai rangka. Seng atap menumpuk di sudut lahan.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya

![[Foto Ilustrasi Digital Art/mediaaceh.co.id/Awelatam].](https://mediaaceh.co.id/wp-content/uploads/2026/02/Compress_20260224_104515_5908.jpg)












