Transparansi menjadi kebutuhan mendesak. Bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan agar warga mengetahui arah penyelesaian.
INI RUMAH KAMI NANTI
DI sebuah tenda di Karang Baru, seorang anak kecil menggambar rumah di atas kertas bekas. Ia mewarnainya dengan krayon biru dan cokelat. Ada pintu, jendela, dan atap yang utuh. “Ini rumah kami nanti,” katanya polos.
Huntara mungkin hanya bangunan sementara. Namun bagi ribuan keluarga di Aceh Tamiang, ia adalah jembatan menuju kehidupan yang lebih stabil.
Ketika pembangunan terhenti tanpa penjelasan, yang tertunda bukan hanya proyek [melainkan rasa aman, harapan, dan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian].
Di bawah terpal yang menua, warga masih menunggu. Bukan sekadar janji, melainkan kepastian. [].

![[Foto Ilustrasi Digital Art/mediaaceh.co.id/Awelatam].](https://mediaaceh.co.id/wp-content/uploads/2026/02/Compress_20260224_104515_5908.jpg)












