OPINI  

Pers Maju, Bangsa Melaju: Suara dari Kilometer Nol Indonesia

Oleh: Bernadus Wilson Lumi

ADA yang istimewa dari Sabang pekan ini. Sabang kembali menjadi saksi sejarah. Di titik paling barat Indonesia, tepat di Monumen Kilometer Nol Indonesia, gema suara para insan pers menggema membawa pesan kebangsaan. Bukan sekadar perayaan ulang tahun ke-79 Serikat Perusahaan Pers (SPS), tapi sebuah pernyataan sikap yang mengguncang kesadaran: pers Indonesia sedang berada di titik kritis, dan negara harus hadir menyelamatkannya.

BACA JUGA...  Jadi Narasumber di UKW, Safrizal ZA: Pers Memiliki Resiko Besar

Deklarasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi atas situasi yang makin genting. Disrupsi digital telah menekan ruang hidup media konvensional, pendapatan iklan tersedot platform global, sementara literasi publik—terutama pembaca muda—kian melemah. Media yang dulu menjadi benteng demokrasi kini harus berjuang untuk sekadar bertahan hidup.

Deklarasi Sabang, begitu nama yang disematkan, bukan hanya simbol geografis, tetapi juga metafora kebangkitan. Dari titik nol inilah SPS menyerukan dimulainya babak baru perjuangan pers nasional—kemandirian, keberlanjutan, dan keberpihakan terhadap kebenaran.

BACA JUGA...  Digitalisasi dan Sosial Media Berperan  Meningkatkan Partisipasi Politik Global  Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045

Ketua Umum SPS, Januar P. Ruswita, menegaskan bahwa Sabang bukan hanya lokasi simbolik, tetapi juga panggilan untuk memulai kembali dari titik nol. “Dari titik nol inilah kami menyerukan kebangkitan kembali industri pers nasional agar ekosistem media Indonesia tidak berhenti di titik krisis, tapi justru memulai babak baru menuju kemandirian dan keberlanjutan,” ujarnya.