“Musuh utama wartawan profesional adalah kebohongan. Maka menuduh wartawan sebagai pembohong sama dengan menghina kebenaran itu sendiri.”
[Nasir Nurdin, Ketua PWI Aceh].
DI BANDA ACEH, siang itu, layar-layar ponsel bergetar hampir bersamaan. Sebuah video dari akun TikTok bernama Saif Lofitr beredar cepat ke berbagai grup WhatsApp wartawan, termasuk grup resmi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh.
Dalam video berdurasi tak sampai satu menit itu, pria berbahasa Aceh dengan nada santai tapi menusuk berkata;
“Meunyoe berita dari wartawan, dari jameun keu jameun memang hanjeut tapateh syadara, le sulet…” [“Kalau berita dari wartawan, dari masa ke masa memang tak bisa dipercaya, banyak bohong.”]
Kalimat sederhana itu, diucapkan tanpa beban, tiba-tiba menjadi bara. Di balik layar, ratusan wartawan di Aceh; yang pernah menulis di tengah desing peluru, bertahan dalam ancaman, dan menuliskan kebenaran dengan risiko hidup [merasa dihina].
Luka dari Ucapan yang Ringan
Video itu pertama kali dibagikan oleh Ketua Dewan Kehormaatan PWI Aceh, HT Anwar Ibrahim, ke grup anggota PWI Aceh, Kamis, 16 Oktober 2025. Tak butuh lama, komentar pun meledak seperti korek yang menyulut bensin.
“Sekarang bilang jangan percaya wartawan. Dia perlu wartawan kalau nanti ada kehilangan, keluarga diperkosa, dan tindak kejahatan lain,” tulis Azwani Awi.
Ketua PWI Sabang, Jalaluddin ZKY, menimpali tajam: “Kenapa belum dilaporkan ke pihak berwajib? Ini pelecehan terhadap tugas wartawan.”




