PIDIE JAYA (MA) – Bubur Asyura menjadi hidangan yang istimewa bagi sejumlah daerah di nusantara sebagai bagian membesarkan dan menghormati 10 Muharram.
Bubur ini bukanlah sembarang bubur, melainkan memiliki cerita dan sejarah yang panjang. Dikaitkan dengan Hari Asyura, hari kesepuluh dalam bulan Muharram dalam kalender Hijriah, bubur Asyura menjadi simbol kebersamaan dan solidaritas.
Resep dan bahan-bahannya serta cara
penyajian mungkin berbeda di setiap daerah, namun inti dari tradisi ini adalah berbagi dan merayakan kebersamaan. Tradisi memasak bubur Asyura hingga kini masih di pertahankan di berapa daerah di Aceh sebagai hidangan utama berbuka puasa.
Sesuai namanya Asyura, Bahasa Arab yang memiliki arti sepuluh, dan hanya dibuat dan dimasak pada 10 Muharram.
Bubur Asyura ini memang sangat khas dengan bahan utama semua jenis kacang kacangan.
Racikan setiap daerah untuk bumbu tambahan tentu di sesuaikan dengan kebiasaan dan selera. Sekelompok Ibu-ibu Gampong (desa) Manyang Cut, Kecamatan Meuredu, Pidie Jaya tidak ingin melewatkan hari yang istimewa ini dengan rutin setiap tahunnya memasak bubur Asyura.
Sejak pukul 08 Wib pagi Jum’at (28/7) para wanita sebagian besar paruh baya hadir di meunasah Blang Meuredu sesuai janji untuk bersama-sama meracik bahan di jadikan bubur. Bahan utama bubur Asyura adalah biji-bijian yang disiapkan secara bersama oleh kaum hawa dan setelah masak dibagikan pada seluruh warga Gampong untuk berbuka puasa nantinya .
Kak Nurhayati selaku ketua majelis taklim gampong Manyang Cut, pada mediaaceh.co.id, Jum’at, (28/7) menuturkan sampai tahun ini kegiatan masak bubur Asyura didukung penuh oleh warga. “ Kenduri bubur ini sangat sukarela dan datang untuk ikut serta membantu secara gotong royong bahu membahu dari proses awal hingga akhir dan siap dibagikan,” tambah Nuhayati.
Hari 10 Muharram memang sangat spesial dan sudah sewajarnya disikapi secara khusus pula oleh warga muslim di Aceh yang mengharap ampunan dosa dari Illahi Rabbi, ujarnya. (T. Maimun).















