Oleh: Maslow Kluet
MAK MEUGANG (punggahan-red) dari tahun ke tahun terus mentradisi bagi kehidupan masyarakat Aceh termasuk Aceh Selatan. Punggahan tahun 1444 H/2023 M ini tampak kurang “meriah” dibandingkan sebelumnya. Padahal idealnya, tradisi yang mendarah daging berlangsung di Aceh Selatan itu juga harus menjadi momen yang paling meriah bagi masyarakat di sana.
Mengapa? Ada hal yang menyebabkan kebiasaan masyarakat Aceh itu jadi melemah.
Faktor ekonomi bagi sebagian masyarakat, menjadi penyebab situasi meugang di kabupaten “pala” itu tampak tidak meriah.
Monitoring kalangan wartawan di lapangan, menyimpulkan, daya beli sebagian masyarakat di daerah itu lemah.
Buktinya, pusat-pusat penyembelihan hewan kerbau dan sapi seperti di Pasar Inpres Tapaktuan, pasar dadakan di sepanjang jalan lintasan Tapaktuan-Blang Pidie tidak seramai tahun-tahun sebelumnya.
Bahkan, di Tapaktuan, ibukota Aceh Selatan yang nota bene penduduknya didominasi PNS tidak memperlihatkan geliat dan kegairahan sosial ekonomi.
Sebagian mereka mengakui, kesulitan untuk memenuhi kebutuhan meugang karena persediaan uang terbatas.
Konon lagi, bagi sebagian di antaranya, PNS golongan rendah, tidak sanggup membeli daging.
“Apa lagi, saat ini di akhir bulan gaji sudah habis, kecuali bagi pegawai yang memiliki usaha sampingan,” kata seorang PNS di Gampong Gunung Kerambil Tapaktuan, Selasa, (21/3).
Akibatnya, dia tidak bisa melangsungkan punggahan secara normal, karena faktor ekonomi tersebut.
Di tengah kondisi sebagian masyarakat sulit, tradisi meugang tatap berlangsung dengan diwarnai dengan penyembelihan hewan berupa sapi dan kerbau.
Penyembelihan dilakukan di tempat-tempat penyembelihan baik di tempat khusus maupun di tempat yang ditentukan oleh pedagang daging yang kemudian dijual di pinggir-pinggir Jalan Negara dan jalan- jajan desa di wilayah itu.
Harga daging meugang di Tapaktuan, Samadua dan di sejumlah lokasi pasar menyimpulkan, harga daging dipatok penjual dengan harga rata-rata Rp.190.000-Rp.220.000/Kg.
Harga jual tinggi tersebut, memungkinkan warga membeli daging alternatif yakni daging ayam yang rata-rata Rp.40.000-Rp.60.000/Kg.
Menurut pedagang, penjualan daging tahun ini menurun karena sangat sedikit warga yang membeli daging.
Dibanding tahun sebelumnya, tahun ini tampak sepi pembeli terlihat dengan minimnya daging ya g dibeli oleh warga.
“Kami tidak tahu penyebab minimnya warga membeli daging, apakah karena kondisi ekonomi atau lainnya,” kata Hendra (34).
Pedagang musiman ini, mengatakan, pihaknya menyediakan daging untuk warga dengan harga terjangkau.
“Tetap harganya sama dengan tahun lalu, tetapi tahun ini kami potong agak sedikit dibanding tahun lalu,” katanya.
Sementara itu, di pusat padat tradisional Kota Fajar Kluet Utara, harga daging kerbau berkisar antara Rp.220.000-Rp.230 .000/Kg.
Daya beli masyarakat di kawasan Kluet Raya, dilaporkan tetap stabil dan bahkan meningkat.
Sejalan dengan geliat ekonomi di wilayah itu, yang rata-rata memiliki tambahan penghasilan dari sektor dagang dan perkebunan sawit.
“Beda dengan di Tapaktuan, daya beli tampak sepi karena ekonomi masih bergantung kepada nilai APBK yang diandalkan oleh warganya,” kata salah seorang pemerhati sosial ekonomi di Aceh Selatan di Tapaktuan, kemarin.
Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UKM Aceh Selatan Harida Aslim, SE melalui Kabid Perdagangan Saipul Rahman, SE, mengatakan, pihaknya melakukan pemantauan harga daging di sejumlah tempat di Aceh Selatan, memperhatikan adanya kondisi di mana jumlah penjualan daging menurun.
“Daya beli warga terhadap daging meugang tampaknya turun,” katanya seraya mengatakan adanya kecenderungan perekonomian yang mampat di tengah situasi inflasi.(*).





