‘Makmeugang’ Dalam Undang-Undang Kerajaan Aceh

Semua data fakir miskin, anak yatim, orang lumpuh dan orang buta harus sudah diterima oleh Sultan satu bulan sebelum hari makmeugang, baik hari makmeugang menyambut puasa, maupun hari makmeugang hari raya idul Fitri dan hari makmeugang hari raya idul Adha.

Feature | Iqbal

DALAM QANUN (Perda) Meukuta Alam, Qanun Undang-Undang negara Kerajaan Aceh Darussalam itu disebutkan, sebulan sebelum datangnya hari makmeugang (hari motong), dalam menyambut bulan suci ramadhan, Sultan Aceh memerintahkan semua Uleebalang di Aceh, mendata fakir miskin, anak yatim, orang sakit (lumpuh), orang buta, dan orang tua (lansia) yang tak lagi mampu mencari nafkah.

BACA JUGA...  Bantuan Seribu Paket Kemenag Ramadhan Mengalir Kepada Anak Yatim dan Fakir Miskin

Semua data fakir miskin, anak yatim, orang lumpuh dan orang buta harus sudah diterima oleh Sultan satu bulan sebelum hari makmeugang, baik hari makmeugang menyambut puasa, maupun hari makmeugang hari raya idul Fitri dan hari makmeugang hari raya idul Adha.

Atas perintah Sultan, para Uleebalang memerintah semua mukim yang ada dalam wilayah kuasanya, untuk memerintahkan semua Keuchik dalam wilayah kemukimannya, agar semua Kechik itu dapat mendata semua fakir miskin, orang lumpuh, orang buta, dan orang tua yang tak dapat mencari nafkah lagi dalam kampungnya masing-masing.