Karya tersebut menjadi tonggak penting dalam perkembangan literatur Islam di kawasan Melayu karena memungkinkan masyarakat memahami isi Al-Qur’an dengan lebih mudah menggunakan bahasa yang mereka kenal. Hingga kini, Tarjuman al-Mustafid masih dianggap sebagai salah satu referensi penting dalam kajian sejarah tafsir Al-Qur’an di Asia Tenggara.
Selain karya tersebut, Syeikh Abdurrauf juga menulis puluhan kitab dalam bahasa Arab dan Melayu yang membahas berbagai bidang ilmu keislaman, mulai dari fikih, akidah, tasawuf, hadis, hingga ilmu kalam.
Pengaruhnya semakin luas melalui para murid yang kemudian menyebarkan ajaran dan pemikirannya ke berbagai wilayah Nusantara. Di antara murid terkenalnya adalah Syekh Burhanuddin Ulakan di Sumatera Barat, Abdul Muhyi di Jawa Barat, serta sejumlah ulama lain yang berperan penting dalam penyebaran Islam di kawasan Melayu.
Setelah wafat pada tahun 1693, Syeikh Abdurrauf dimakamkan di samping masjid yang pernah dibangunnya di kawasan Kuala Aceh, yang kini menjadi salah satu tujuan wisata religi paling populer di Aceh.
Kompleks makam tersebut setiap tahun dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, termasuk Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara, hingga Malaysia. Banyak pengunjung datang untuk berziarah, mengenang jasa-jasa beliau, sekaligus mempelajari sejarah perkembangan Islam di Aceh.




