BANDA ACEH (MA) – Aceh tidak hanya dikenal sebagai daerah dengan kekayaan alam dan budaya yang memikat, tetapi juga sebagai salah satu pusat perkembangan peradaban Islam di Nusantara. Jejak kejayaan intelektual itu masih dapat ditelusuri hingga kini melalui salah satu destinasi wisata religi yang sarat nilai sejarah, yakni Makam Syeikh Abdurrauf As-Singkili di Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.
Bagi peziarah maupun wisatawan yang tertarik mendalami sejarah Islam Nusantara, makam ulama besar yang lebih dikenal dengan sebutan Teungku Syiah Kuala ini menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Di lokasi yang berada tak jauh dari muara Sungai Aceh tersebut, tersimpan kisah seorang cendekiawan yang pemikirannya melintasi zaman dan memberi pengaruh besar terhadap perkembangan Islam di dunia Melayu.
Syeikh Abdurrauf As-Singkili lahir di kawasan Fansur, Singkil, sekitar tahun 1615 Masehi. Nama lengkapnya adalah Aminuddin Abdurrauf bin Ali Al-Jawi Al-Fansuri As-Singkili. Sejak usia muda, ia telah menunjukkan ketertarikan besar terhadap ilmu pengetahuan agama dan tumbuh dalam lingkungan yang dikenal sebagai pusat pendidikan Islam pada masanya.
Perjalanan intelektualnya kemudian membawanya menempuh pendidikan ke berbagai wilayah di Timur Tengah. Pada tahun 1642 M, ia berangkat ke Tanah Arab dan menghabiskan hampir dua dekade untuk memperdalam berbagai disiplin ilmu Islam.




