Termasuk berbagai masalah yang selama ini terjadi seperti pendangkalan Aqidah, muncul berbagai aliran sesat, merosotnya akhlak karimah, korupsi merajalela.
Kehidupan rakyat Aceh sangat hidonisme, masalah narkoba, konflik lembaga politik, game online, dan berbagai masalah lainnya, sehingga menjadi dorongan utama-ulama dari dayah berkeinginan terlibat dalam partai lokal baru di Aceh.
Sampai akhirnya ada ulama dayah turun gunung dan mendirikan partai lokal baru dengan harapan, kedepan pembangunan Aceh lebih baik sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Partai Lokal Baru di Aceh
Pertanyaanya adalah apakah dengan partai politik lokal baru, Aceh menjadi baik? Kalau berkeinginan merubah Aceh lebih baik, apakah hanya dengan partai politik? Kenapa tidak dengan tetap fokus bidang pendidikan, dan penguatan aqidah? Atau partai lokal baru hanya tujuan untuk merebut kekuasaan?
Melihat Aceh masa kini, penulis sedikit tertarik mengulas sejarah Imam Al-Ghazali, Ulama Sufi yang tetap konsisten dan fokus mengembangkan ilmu tasawuf, biarpun saat itu kota Baghdad sedang dalam situasi politik kacau-balau, penuh fitnah, dan perpecahan.
Pengaruh Ahlussunnah Waljamaah saat itu, mengalami titik yang sangat menyedihkan dan nyaris hilang, sementara kekuatan madzhab Syi’ah semakin besar di kota Baghdad.




