IDI CUT (MA)-Dini hari 3 Februari 1999, Simpang Kuala, Idi Cut, Aceh Timur, tidak lagi sekadar titik persimpangan jalan kampung. Ia berubah menjadi persimpangan sejarah. Pagi yang seharusnya pelan dan biasa itu mendadak pecah oleh peristiwa yang kemudian menorehkan luka panjang bagi masyarakat setempat. Sejumlah warga menjadi korban, sebagian meregang nyawa, dan tubuh-tubuh mereka akhirnya dibuang ke Krueng Arakundo—sungai yang sebelumnya menjadi bagian dari ritme kehidupan sehari-hari.
Dua puluh tujuh tahun telah berlalu. Waktu bergerak maju, generasi bertambah, tetapi 3 Februari tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan warga Idi Cut. Nama Arakundo kini bukan lagi sekadar nama sungai. Ia telah menjelma simbol tragedi. Ia menyimpan memori tentang kehilangan, ketakutan, dan pertanyaan yang hingga kini belum sepenuhnya terjawab.
Dalam banyak percakapan warga, tragedi itu disebut sebagai salah satu peristiwa besar yang membekas dalam sejarah konflik Aceh. Ia hadir sebagai bagian dari mozaik panjang kekerasan yang menyelimuti provinsi ini selama hampir tiga dekade. Mengingat Arakundo bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menggugat bagaimana sejarah itu dicatat—atau justru dilupakan.





