Tragedi Idi Cut: Arakundo dan Ingatan yang Tak Surut

Selasa, 3 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dok. Proses pencarian para korban pembunuhan di Jembatan Arakundo, Idi Cut, Aceh Timur, 1999 silam. (Ist)

Dok. Proses pencarian para korban pembunuhan di Jembatan Arakundo, Idi Cut, Aceh Timur, 1999 silam. (Ist)

3 Februari 1999: Pagi yang Mengubah Segalanya

Awal pagi 3 Februari 1999 menjadi titik balik bagi banyak keluarga di Idi Cut. Peristiwa itu berlangsung dalam suasana yang mencekam. Warga yang sebelumnya terlelap terbangun oleh kegaduhan. Ketakutan menyebar cepat. Di tengah situasi yang tidak jelas, sejumlah warga menjadi korban dan kehilangan nyawa.

Tubuh-tubuh korban kemudian dibawa dan dibuang ke Krueng Arakundo. Sungai itu, yang biasanya menjadi tempat warga mencari ikan atau sekadar mandi, berubah menjadi saksi bisu tragedi. Sejak hari itu, Arakundo tidak lagi netral. Ia menyimpan cerita yang tidak pernah benar-benar selesai.

BACA JUGA...  Pesawat Sukses Selenggarakan Rakerpeg di Aceh Tengah

Bagi keluarga korban, 3 Februari bukan hanya tanggal. Ia adalah ingatan tentang kehilangan orang tua, saudara, atau kerabat. Anak-anak yang kala itu masih kecil kini telah dewasa, membawa cerita yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Ada yang tumbuh dengan pertanyaan yang tak terjawab, ada pula yang memilih diam karena lelah menunggu kepastian.

BACA JUGA...  Bupati Al-Farlaky Lantik Pengurus MAA Aceh Timur 2026-2030

Hingga kini, dokumentasi resmi mengenai jumlah korban dan kronologi detail peristiwa masih terbatas. Inilah yang membuat tragedi tersebut hidup lebih kuat dalam ingatan lisan masyarakat ketimbang dalam arsip negara. Di banyak rumah, kisah tentang Arakundo diceritakan kembali dari mulut ke mulut, menjaga agar ia tidak hilang ditelan waktu.

Sungai tetap mengalir. Sawah kembali ditanami. Pasar kembali ramai. Namun bagi mereka yang pernah kehilangan, setiap 3 Februari selalu membawa suasana berbeda. Ada sunyi yang tidak terlihat, tetapi terasa.

BACA JUGA...  Kecelakaan Beruntun Akibat Jalan Berlubang, Pemerintah Harus Bertanggung Jawab 

Berita Terkait

Pasar di Aceh Selatan Sepi, Ini Penyebabnya 
Longsor Menghantui Pengguna Jalan 
Ayah Wa Imbau Warga Waspada Bencana
Nelayan Meukek Ditemukan Meninggal
Isu Begal Pengaruhi Mobilitas Warga  di Aceh Selatan 
Hujan Lebat, Aceh Selatan Diterjang Banjir dan Longsor
Status Blang Padang, Wali Nanggroe Bersuara
Apache Dihentikan Pada Acara Penutupan Milad 800, Ayah Wa: Kita Hormati Syariat

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 19:46 WIB

Longsor Menghantui Pengguna Jalan 

Sabtu, 19 September 2026 - 21:33 WIB

Ayah Wa Imbau Warga Waspada Bencana

Jumat, 18 September 2026 - 17:41 WIB

Nelayan Meukek Ditemukan Meninggal

Kamis, 17 September 2026 - 12:04 WIB

Isu Begal Pengaruhi Mobilitas Warga  di Aceh Selatan 

Rabu, 16 September 2026 - 19:33 WIB

Hujan Lebat, Aceh Selatan Diterjang Banjir dan Longsor

Berita Terbaru

NEWS FEATURE

SLCN Perkuat Kesiapsiagaan Nelayan Hadapi Cuaca

Rabu, 23 Sep 2026 - 17:46 WIB

RAGAM BERITA

Pilar Wirotama: Tantangan Komunikasi Bukan Sekadar Framing

Rabu, 23 Sep 2026 - 11:15 WIB

NASIONAL

Ketua Umum SPS: AI Harus Jadi Pengungkit Bisnis Pers

Rabu, 23 Sep 2026 - 11:10 WIB

Foto bersama kedutaan besar Myanmar, Mang Hau Thang didampingi Counsellor Shwe Yi Phyo, First Secretary San Nyunt Aung, dan Chief of Chancery Htet Htet Aung dan KSMI, Ketua Umum Yan Mulia Abidin, dan pengurus lainnya, Tundra Meliala, Moko Pamungkas, Meina Paloh, M. Iksan Tauleka, Dudung Abdul Rachman, Marino. (Dok.KSMI)

OLAHRAGA

Perkuat Persahabatan Asia, Myanmar Bergabung 

Rabu, 23 Sep 2026 - 11:05 WIB

NASIONAL

Purbaya Mulai Mengimbangi Perhatian Publik terhadap Prabowo

Selasa, 22 Sep 2026 - 18:30 WIB