3 Februari 1999: Pagi yang Mengubah Segalanya
Awal pagi 3 Februari 1999 menjadi titik balik bagi banyak keluarga di Idi Cut. Peristiwa itu berlangsung dalam suasana yang mencekam. Warga yang sebelumnya terlelap terbangun oleh kegaduhan. Ketakutan menyebar cepat. Di tengah situasi yang tidak jelas, sejumlah warga menjadi korban dan kehilangan nyawa.
Tubuh-tubuh korban kemudian dibawa dan dibuang ke Krueng Arakundo. Sungai itu, yang biasanya menjadi tempat warga mencari ikan atau sekadar mandi, berubah menjadi saksi bisu tragedi. Sejak hari itu, Arakundo tidak lagi netral. Ia menyimpan cerita yang tidak pernah benar-benar selesai.
Bagi keluarga korban, 3 Februari bukan hanya tanggal. Ia adalah ingatan tentang kehilangan orang tua, saudara, atau kerabat. Anak-anak yang kala itu masih kecil kini telah dewasa, membawa cerita yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Ada yang tumbuh dengan pertanyaan yang tak terjawab, ada pula yang memilih diam karena lelah menunggu kepastian.
Hingga kini, dokumentasi resmi mengenai jumlah korban dan kronologi detail peristiwa masih terbatas. Inilah yang membuat tragedi tersebut hidup lebih kuat dalam ingatan lisan masyarakat ketimbang dalam arsip negara. Di banyak rumah, kisah tentang Arakundo diceritakan kembali dari mulut ke mulut, menjaga agar ia tidak hilang ditelan waktu.
Sungai tetap mengalir. Sawah kembali ditanami. Pasar kembali ramai. Namun bagi mereka yang pernah kehilangan, setiap 3 Februari selalu membawa suasana berbeda. Ada sunyi yang tidak terlihat, tetapi terasa.





