MEDIA ACEH

Tragedi Idi Cut: Arakundo dan Ingatan yang Tak Surut

Idi Cut
Dok. Proses pencarian para korban pembunuhan di Jembatan Arakundo, Idi Cut, Aceh Timur, 1999 silam. (Ist)

Aceh 1999: Transisi yang Tidak Pernah Tenang

Untuk memahami tragedi Idi Cut, kita perlu menengok situasi Aceh pada 1999. Tahun itu adalah masa transisi yang tidak pernah benar-benar tenang. Status Daerah Operasi Militer (DOM) yang diberlakukan sejak 1989 resmi dicabut pada 7 Agustus 1998 oleh Presiden BJ Habibie. Pencabutan itu disambut dengan harapan besar. Banyak warga percaya bahwa babak kekerasan akan segera berakhir.

BACA JUGA...  Lokakarya Perdana PPGP Angkatan 3 Aceh Timur Kurang Maksimal

Namun realitas tidak sesederhana itu. Pencabutan DOM memang mengubah status administratif, tetapi tidak serta-merta menghapus ketegangan di lapangan. Trauma kolektif akibat operasi militer hampir satu dekade masih melekat. Hubungan antara aparat dan masyarakat diliputi ketidakpercayaan. Di banyak wilayah, termasuk Aceh Timur, gesekan masih sering terjadi.

Tahun 1999 juga menjadi momentum menguatnya tuntutan politik di Aceh. Pada 8 November 1999, ratusan ribu warga berkumpul dalam aksi besar di Banda Aceh menyerukan referendum. Gelombang aspirasi itu memperlihatkan betapa dalamnya rasa ketidakpuasan terhadap situasi yang ada. Atmosfer politik memanas, dan situasi keamanan menjadi rapuh.

BACA JUGA...  Karhutla Masih Menjadi Masalah Utama di Tanah Air

Aceh Timur dikenal sebagai salah satu wilayah yang kerap menjadi episentrum ketegangan. Dalam situasi seperti itu, satu percikan kecil dapat berubah menjadi peristiwa besar. Tragedi Idi Cut terjadi dalam lanskap sosial-politik yang belum pulih dan belum stabil. Ia bukan peristiwa yang lahir dari ruang hampa, melainkan bagian dari struktur konflik yang lebih luas.