Menggenggam Ingatan, Merawat Perdamaian
Dua dekade lebih perdamaian Aceh berjalan. Generasi muda hari ini banyak yang tidak mengalami langsung masa-masa konflik. Mereka tumbuh dalam suasana relatif stabil, mengenal Aceh sebagai daerah yang membangun diri, bukan sebagai wilayah yang dilanda kekerasan.
Namun sejarah tidak boleh hilang begitu saja. Tragedi Idi Cut adalah bagian dari pelajaran penting tentang apa yang bisa terjadi ketika konflik tidak dikelola dengan bijak. Mengingat bukan untuk membuka kembali luka, melainkan untuk memastikan bahwa luka serupa tidak tercipta di masa depan.
Upaya memorialisasi peristiwa-peristiwa konflik di Aceh masih terbatas. Tidak semua tragedi memiliki penanda fisik atau monumen. Karena itu, tulisan sejarah, diskusi publik, dan peringatan tahunan menjadi penting. Ia menjaga agar memori kolektif tetap hidup.
Perdamaian sejati bukan hanya berhentinya bunyi senjata. Ia adalah keberanian menatap masa lalu dengan jujur. Ia adalah kesediaan mengakui bahwa ada korban, ada luka, dan ada tanggung jawab.
Tragedi Idi Cut, atau yang dikenal sebagai Tragedi Arakundo, adalah bagian dari sejarah Aceh Timur yang tidak boleh dihapus. Di tepi Krueng Arakundo, air terus mengalir seperti biasa. Tetapi bagi masyarakat yang pernah kehilangan, sungai itu akan selalu menyimpan cerita tentang pagi yang mengubah segalanya.
Mengingat Arakundo berarti menggenggam ingatan sebagai fondasi perdamaian. Sebab sejarah yang diakui dengan jujur adalah langkah pertama menuju masa depan yang lebih adil dan lebih manusiawi. (Tim)





