Tragedi Idi Cut: Arakundo dan Ingatan yang Tak Surut

Selasa, 3 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dok. Proses pencarian para korban pembunuhan di Jembatan Arakundo, Idi Cut, Aceh Timur, 1999 silam. (Ist)

Dok. Proses pencarian para korban pembunuhan di Jembatan Arakundo, Idi Cut, Aceh Timur, 1999 silam. (Ist)

Menggenggam Ingatan, Merawat Perdamaian

Dua dekade lebih perdamaian Aceh berjalan. Generasi muda hari ini banyak yang tidak mengalami langsung masa-masa konflik. Mereka tumbuh dalam suasana relatif stabil, mengenal Aceh sebagai daerah yang membangun diri, bukan sebagai wilayah yang dilanda kekerasan.

Namun sejarah tidak boleh hilang begitu saja. Tragedi Idi Cut adalah bagian dari pelajaran penting tentang apa yang bisa terjadi ketika konflik tidak dikelola dengan bijak. Mengingat bukan untuk membuka kembali luka, melainkan untuk memastikan bahwa luka serupa tidak tercipta di masa depan.

BACA JUGA...  PESAWAT Dukung Pernyataan Jubir KPA Peureulak Terkait Desakan Pencopotan Plt Kadisdikbud Aceh Timur

Upaya memorialisasi peristiwa-peristiwa konflik di Aceh masih terbatas. Tidak semua tragedi memiliki penanda fisik atau monumen. Karena itu, tulisan sejarah, diskusi publik, dan peringatan tahunan menjadi penting. Ia menjaga agar memori kolektif tetap hidup.

Perdamaian sejati bukan hanya berhentinya bunyi senjata. Ia adalah keberanian menatap masa lalu dengan jujur. Ia adalah kesediaan mengakui bahwa ada korban, ada luka, dan ada tanggung jawab.

BACA JUGA...  Tembok Penahan Tebing Roboh Pascagempa M 4,9 Garut

Tragedi Idi Cut, atau yang dikenal sebagai Tragedi Arakundo, adalah bagian dari sejarah Aceh Timur yang tidak boleh dihapus. Di tepi Krueng Arakundo, air terus mengalir seperti biasa. Tetapi bagi masyarakat yang pernah kehilangan, sungai itu akan selalu menyimpan cerita tentang pagi yang mengubah segalanya.

Mengingat Arakundo berarti menggenggam ingatan sebagai fondasi perdamaian. Sebab sejarah yang diakui dengan jujur adalah langkah pertama menuju masa depan yang lebih adil dan lebih manusiawi. (Tim)

BACA JUGA...  Pang Gojo dan Pang Ucok Bertemu dan Bahas Pembangunan untuk Aceh Timur 

Berita Terkait

Pasar di Aceh Selatan Sepi, Ini Penyebabnya 
Longsor Menghantui Pengguna Jalan 
Ayah Wa Imbau Warga Waspada Bencana
Nelayan Meukek Ditemukan Meninggal
Isu Begal Pengaruhi Mobilitas Warga  di Aceh Selatan 
Hujan Lebat, Aceh Selatan Diterjang Banjir dan Longsor
Status Blang Padang, Wali Nanggroe Bersuara
Apache Dihentikan Pada Acara Penutupan Milad 800, Ayah Wa: Kita Hormati Syariat

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 19:46 WIB

Longsor Menghantui Pengguna Jalan 

Sabtu, 19 September 2026 - 21:33 WIB

Ayah Wa Imbau Warga Waspada Bencana

Jumat, 18 September 2026 - 17:41 WIB

Nelayan Meukek Ditemukan Meninggal

Kamis, 17 September 2026 - 12:04 WIB

Isu Begal Pengaruhi Mobilitas Warga  di Aceh Selatan 

Rabu, 16 September 2026 - 19:33 WIB

Hujan Lebat, Aceh Selatan Diterjang Banjir dan Longsor

Berita Terbaru

NEWS FEATURE

SLCN Perkuat Kesiapsiagaan Nelayan Hadapi Cuaca

Rabu, 23 Sep 2026 - 17:46 WIB

RAGAM BERITA

Pilar Wirotama: Tantangan Komunikasi Bukan Sekadar Framing

Rabu, 23 Sep 2026 - 11:15 WIB

NASIONAL

Ketua Umum SPS: AI Harus Jadi Pengungkit Bisnis Pers

Rabu, 23 Sep 2026 - 11:10 WIB

Foto bersama kedutaan besar Myanmar, Mang Hau Thang didampingi Counsellor Shwe Yi Phyo, First Secretary San Nyunt Aung, dan Chief of Chancery Htet Htet Aung dan KSMI, Ketua Umum Yan Mulia Abidin, dan pengurus lainnya, Tundra Meliala, Moko Pamungkas, Meina Paloh, M. Iksan Tauleka, Dudung Abdul Rachman, Marino. (Dok.KSMI)

OLAHRAGA

Perkuat Persahabatan Asia, Myanmar Bergabung 

Rabu, 23 Sep 2026 - 11:05 WIB

NASIONAL

Purbaya Mulai Mengimbangi Perhatian Publik terhadap Prabowo

Selasa, 22 Sep 2026 - 18:30 WIB