Sejarah Timphan dipercaya telah ada sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam. Selama ratusan tahun, resepnya diwariskan secara turun-temurun dan tetap bertahan hingga saat ini.
Nama “Timphan” sendiri diyakini berasal dari bahasa Aceh yang berarti “ditimpa” atau “tertindih”. Istilah tersebut merujuk pada proses pembuatannya, ketika adonan ketan dipipihkan, diberi isian, lalu ditutup kembali sebelum dibungkus menggunakan daun pisang.
Proses pembuatan yang masih mempertahankan cara tradisional menjadi salah satu alasan mengapa Timphan memiliki cita rasa khas yang sulit ditemukan pada makanan modern.
Bahan utama Timphan terdiri dari tepung ketan, pisang yang dihaluskan, dan santan kelapa yang dicampur hingga membentuk adonan lembut. Adonan kemudian diisi dengan berbagai pilihan rasa sebelum dibungkus daun pisang dan dikukus hingga matang.

Penggunaan daun pisang bukan hanya berfungsi sebagai pembungkus, tetapi juga memberikan aroma khas yang memperkaya cita rasa Timphan.
Awalnya, Timphan identik dengan isian kelapa parut yang dimasak bersama gula aren. Namun seiring perkembangan zaman, berbagai inovasi menghadirkan beragam varian rasa yang semakin diminati.
Salah satu yang paling populer adalah Timphan Srikaya, yang dibuat dari campuran telur, santan, dan gula sehingga menghasilkan tekstur lembut dengan rasa manis yang khas. Selain itu, beberapa pembuat juga menghadirkan variasi rasa durian, cokelat, hingga keju untuk menyesuaikan selera generasi muda.




