example banner

oleh

Tamiang Pandai Aplikasi Sistemik

example banner

example banner

Featured | Syawaluddin

ACEH TAMIANG sempat masuk dalam daftar zona merah, Corona Virus Disease – 2019 (Covid-19), pun begitu, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Berupaya untuk memulihkan kembali daftar Zona Merah kembali Hijau.

Berbagai strategi dilakukan Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, di Bumi Muda Sedia. Praktik Yustisi, Perketat penjagaan pintu gerbang perbatasan, Gerakan pembagian masker, Penyuluhan serta Gerakan Memakai Masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak (3M)  secara gencar dilakukan.

Gebrakan Kabupaten diujung Timur, Aceh tersebut, membuahkan hasil. Dimedio Oktober – November 2020, tercatat sebanyak 300 orang terkonfirmasi positif Covid-19.

Hingga Aceh Tamiang ada di dalam daftar Kabupaten Zona Merah, tetapi dengan kesigapan Satgas Covid-19 dan Tim Medis, melakukan tindakan, akhirnya Aceh Tamiang mampu menyembuhkan 249 orang terkonfirmasi Covid-19.

Dengan rincian Terkonfirmasi Positif Covid-19 sebanyak 300 orang dengan rincian 249 orang dinyatakan sembuh dan 46 orang masih Terkonfirmasi Positif Covid-19, sementara 12 orang lainnya meninggal.

Belum selesai sampai disitu, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, terus berupaya membebaskan masyarakatnya dari serangan pandemi Covid-19.

Upaya tidak hanya sebatas medis saja dilakukan, tetapi, mengupayakan bagaimana anak-anak usia didik tidak tertinggal dalam praktik belajar mengajar.

Untuk mengejar itu; Pemerintah Aceh Tamiang membuat trobosan, agar anak-anak usia didik bisa normal belajar. Bupati Aceh Tamiang, Mursil menciptakan program aplikasi berbasis digitalisasi yang diberi nama ‘TAMIANG PANDAI’.

“Ini adalah program inovasi, program ini hanya Aceh Tamiang yang menemukan dan baru pertama sekali digunakan di Aceh,” Kata Mursil mengklaim aplikasi tersebut, Aceh Tamiang yang menciptakan.

Tamiang Pandai merupakan aplikasi pendidikan terpadu untuk mengatasi pembelajaran di masa pandemi.

Inovasi ini dinamakan aplikasi “Tamiang Pande”. Ide awal pembuatan aplikasi Tamiang Pande diinisiasi oleh Diskominsan dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang.

Karena selama ini siswa tidak bisa belajar tatap muka. Kemudian Diskominfo menawarkan aplikasi yang bisa digunakan secara masif dan teroganisir menjangkau seluruh siswa dari hulu hingga hilir.

Aplikasi Tamiang Pande diluncurkan awal Oktober 2020 lalu oleh Bupati Aceh Tamiang, H Mursil. Aplikasi ini pun diklaim sebagai inovasi pertama di Provinsi Aceh dalam hal mengatasi pembelajaran di masa pandemi Covid-19 saat ini.

“Ini bukan main-main, aplikasi e-Learning terpadu berbasis android ini merupakan pertama di Aceh, di dalamnya terdapat menu video manajemen sistem, ujian online dan informasi terpadu mengenai perkembangan pendidikan di Kabupaten Aceh Tamiang,” kata Bupati Mursil kepada Media Aceh, Senin, 16 Oktober 2020.

Teknologi website tersebut adalah terobosan kekinian yang akan menjawab semua permasalahan dan kendala yang dihadapi oleh orang tua, guru dan siswa.

“Saya mengapresiasi kepada tim Dinas Kominfo dan Disdikbud Aceh Tamiang selaku pihak yang telah menginisiasi lahirnya aplikasi tersebut,” Katanya.

Tamiang Pandai, merupakan formula dalam mengatasi kendala pembelajaran secara daring yang dianggap belum maksimal, Pemkab Aceh Tamiang telah melakukan dua tahap kebijakan pada bidang pendidikan yaitu, program konsultasi belajar di Masjid dan aplikasi Tamiang Pande adalah inovasi kedua dalam bidang pendidikan dengan memanfaatkan teknologi yang canggih.

Apalagi saat Mursil melounchingkan aplikasi Tamiang Pandai, dia minta operator menampilkan video ringkas tata cara pengoperasian aplikasi Tamiang Pande untuk ditonton seluruh pejabat teras, Kepala SKPK dan peserta yang hadir. “Mari kita men-download aplikasi Tamiang Pande di Play Store dari ponsel android masing-masing,” ajak Bupati Mursil.

Kabid Dikdas pada Disdikbud Aceh Tamiang, Bambang Supriyanto mengatakan, pengisi konten-konten aplikasi ini adalah guru-guru yang berprestasi dan ketua musyawarah guru mata pelajaran (MGMT) yang sudah dilatih membuat konten video pembelajaran yang setiap minggu berbeda sesuai dengan materi dan kurikulum.

“Kontennya masalah materi pembelajaran disesuaikan dengan bidang dan kompetensi dasar masing-masing. Artinya aplikasi Tamiang Pande bisa dilaksanakan masif dan teroganisir, pembelajaran yang teroganisir baru di Aceh Tamiang,” terangnya.

Adapun target aplikasi ini menurut Bambang untuk mengatasi kesulitan belajar Daring selama ini. Bahkan yang paling membuat dinas pendidikan senang adalah seluruh siswa wilayah hulu, hilir dan tengah mendapatkan pemerataan pelayanan yang sama.

“Selama ini kan, yang pande-pande (pintar) siswa wilayah tengah/kota karena terjangkau, tapi dengan aplikasi ini semua bisa melihat, merata seluruh siswa langsung bisa men-download,” sebut Bambang.

Dipaparkan, pembuatan aplikasi ini turut melibatkan guru TK, SD dan SMP yang akan terus mengisi konten. Guru akan membuat video masing-masing bidang setudi ditingkat sekolah tersebut untuk dimasukan ke aplikasi sehingga bisa ditonton dari rumah. “Namun sebelum dimasukan ke aplikasi, konten diseleksi dahulu oleh pengawas seluruh mata pelajaran,” paparnya

Mantan Kasek Percontohan ini menambahkan, jika kondisi Covid-19 sudah berakhir, aplikasi Tamiang Pande tetap bisa digunakan. Ia memastikan aplikasi ini tidak ada mencontoh daerah mana pun. Karena aplikasi pembelajaran ini pertama di Aceh mungkin juga di Indonesia.

Secara terpisah, Plt Kepala Diskominsan Aceh Tamiang, Bastian kepada Analisa, Selasa, 3 November 2020 mengatakan, proses pembuatan aplikasi memakan waktu dua minggu. Karena aplikasi baru butuh waktu lama untuk masuk di playstore. “Jadi tingkat kesulitannya ketika didaftarkan di playstore,” katanya.

Setelah tiga minggu, sambung Bastian, aplikasi baru bisa keluar di playstore. Untuk pemakaiannya aplikasi ini gratis, namun akan ada pengembangan lagi, sekarang ini sudah bisa di download via IOS/Apple dan Playstore di ponsel.

“Ini murni dari ide teman-teman Kominsan dan Dinas Pendidikan karena ini aplikasi pertama di Aceh untuk pendidikan sebagai fokus awal, nanti akan dikembangkan ke Dayah, MPU untuk ceramah Ustadz, Dai dan majalah dinding berita pemda,” ujarnya.

Setelah aplikasi Tamiang Pande diluncurkan, para guru tingkat TK, SD dan SMP mulai ikut pelatihan belajar membuat dan editing video pembelajaran di Diskominsan setempat selama dua bulan. “Saat ini yang sudah kita kirim ke server ada 61 video, tapi yang sudah naik ke aplikasi baru 20 video. Agak lama upload-nya, per tiga hari satu video,” tukasnya.(*)

 

Foto | Dua orang siswi sedang memperlihatkan aplikasi Tamiang Pandai, saat lounching beberapa waktu lalu di Karang Baru, Aceh Tamiang. (mediaaceh.co.id/dok/Syawaluddin)

example banner

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BACA JUGA..