ACEH | MA — Di Aceh, tanah yang pernah dihantam sejarah dan gelombang perlawanan, lahirlah lelaki yang memilih jalan sunyi: setia pada nilai, bukan ambisi; bersetia pada rakyat, bukan pada kursi. Namanya Salihin—bukan nama yang sering terdengar di meja kekuasaan, bukan pula wajah yang muncul dalam spanduk besar dan sorot media. Ia hanya anak kampung, yang sejak kecil percaya bahwa hidup bukan soal menjadi besar, tetapi soal tetap teguh ketika diberi amanah.
Akar yang Membumi
Salihin lahir dari keluarga sederhana di pedalaman Aceh. Dari kecil ia belajar bahwa kesuksesan bukan datang dari kemewahan, tapi dari keringat yang jatuh ke tanah. Ia sekolah tanpa baju seragam yang mewah, mengaji dengan suara bergetar karena takut salah sebut huruf, dan membantu orang tua di ladang, menanam harapan di balik debu dan lumpur.
“Ayah saya hanya petani, ibu saya juga,” ucapnya suatu kali, pelan. “Kami tidak punya banyak. Tapi kami punya nilai. Itu cukup.”
Nilai-nilai itu yang mengakar kuat dalam dirinya. Bahwa jabatan tak pernah lebih tinggi dari ridha orang tua. Bahwa tak ada alasan untuk sombong, bahkan saat nama mulai disebut-sebut di ruang dewan.





