Salihin: Dari Brigadir ke Parlemen Rakyat

ACEH | MA Di Aceh, tanah yang pernah dihantam sejarah dan gelombang perlawanan, lahirlah lelaki yang memilih jalan sunyi: setia pada nilai, bukan ambisi; bersetia pada rakyat, bukan pada kursi. Namanya Salihin—bukan nama yang sering terdengar di meja kekuasaan, bukan pula wajah yang muncul dalam spanduk besar dan sorot media. Ia hanya anak kampung, yang sejak kecil percaya bahwa hidup bukan soal menjadi besar, tetapi soal tetap teguh ketika diberi amanah.

BACA JUGA...  Salihin Bantu Masyarakat Terdampak Bencana

Akar yang Membumi

Salihin lahir dari keluarga sederhana di pedalaman Aceh. Dari kecil ia belajar bahwa kesuksesan bukan datang dari kemewahan, tapi dari keringat yang jatuh ke tanah. Ia sekolah tanpa baju seragam yang mewah, mengaji dengan suara bergetar karena takut salah sebut huruf, dan membantu orang tua di ladang, menanam harapan di balik debu dan lumpur.

BACA JUGA...  Pulang dari Jakarta, Salihin: Revisi UUPA dan Otsus Menyangkut Masa Depan Aceh

“Ayah saya hanya petani, ibu saya juga,” ucapnya suatu kali, pelan. “Kami tidak punya banyak. Tapi kami punya nilai. Itu cukup.”

Nilai-nilai itu yang mengakar kuat dalam dirinya. Bahwa jabatan tak pernah lebih tinggi dari ridha orang tua. Bahwa tak ada alasan untuk sombong, bahkan saat nama mulai disebut-sebut di ruang dewan.

BACA JUGA...  Prediksi Persik vs Malut United, Liga Super 12 September 2025
Salihin saat jadi personil Polri.