Brigadir Tanpa Cela
Bergabung dengan kepolisian adalah mimpi banyak anak muda. Bagi Salihin, seragam cokelat itu bukan lambang kuasa, tapi bentuk ikhtiar menjaga ketertiban. Ia ditempatkan di satuan reskrim, sebuah dunia yang kerap bersinggungan dengan perkara hitam-putih, kadang juga abu-abu.
Namun Salihin menolak abu-abu itu. Selama 12 tahun 3 bulan bertugas, tak satu pun catatan pelanggaran melekat di namanya. Rekan-rekannya menyebutnya “brigadir bersih”, masyarakat mengenalnya sebagai polisi yang bisa diajak bicara. “Kalau ada masalah, kami lebih tenang kalau yang datang Pak Salihin,” kata seorang warga, mengingat masa lalu itu.
Tapi ada gelisah yang tumbuh perlahan. Ia merasa tak cukup hanya menegakkan hukum. Ia ingin mengubah sistem, bukan sekadar mengobati gejalanya. Maka pada usia 31 tahun, ia mengundurkan diri. Tanpa tuntutan pensiun, tanpa pamit panjang, hanya satu kalimat pada komandannya: “Saya ingin lebih dekat dengan rakyat.”

Dari Ladang ke Parlemen
Salihin terjun ke politik bukan karena diajak, apalagi didorong. Ia datang sendiri, dengan sepi, dan keyakinan. Modalnya hanya relasi sosial yang ia bangun sejak muda—silaturahmi yang dijaga, janji-janji kecil yang selalu ditepati, dan doa orang tua yang tak pernah putus.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya














