TAPAKTUAN | MA — Rasa getir dan kekhawatiran terus menghantui warga Gampong Simpang Tiga Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Aceh Selatan, menyusul isu eksploitasi pertambangan yang kembali mengarah ke wilayah tempat mereka bermukim.
Kekhawatiran itu muncul bukan tanpa alasan, mengingat kampung halaman yang berada di bawah kaki Gunung Kukusan Menggamat tersebut selama puluhan tahun telah menjadi sasaran aktivitas pertambangan.
Mukhtar Adami, salah seorang tokoh masyarakat setempat, mengaku mulai memikirkan langkah-langkah agar rasa cemas tersebut tidak terus membayangi kehidupan warga. Mantan anggota Badan Reintegrasi Aceh (BRA) itu mengaku tersentak setelah membaca sejumlah pemberitaan mengenai bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada penghujung tahun 2025.
“Peristiwa banjir bandang dan tanah longsor itu sangat menyedihkan. Harta benda hilang, bahkan nyawa melayang. Dari situ saya semakin khawatir, jangan sampai hal serupa terjadi di kampung kami,” ujar Mukhtar.
Menurutnya, kekhawatiran warga semakin besar karena lahan milik masyarakat diduga telah masuk dalam wilayah yang memperoleh izin eksplorasi tambang. Selama puluhan tahun, kata dia, perusahaan tambang datang silih berganti, namun masyarakat sekitar tak pernah benar-benar merasakan dampak kesejahteraan.



