Jembatan gantung itu, yang hanya bisa dilalui sepeda motor, menjadi saksi bisu ketidakadilan pembangunan. Setiap kali banjir datang, papan lintasannya hanyut, besinya berkarat, dan warga harus bertaruh nyawa untuk menyeberang.
“Kalau musim banjir, kami terisolir total. Anak-anak tak bisa ke sekolah, hasil kebun tak bisa dijual,” tutur seorang ibu rumah tangga di Kuala Penaga.
Warga berharap pada satu hal: jembatan permanen yang kokoh, menghubungkan Kuala Penaga – Tanjung Binjai – Kampung Baru Seruway.
Sebuah infrastruktur penghubung yang tak sekadar beton dan baja, tapi juga simbol kesetaraan dan akses ke kehidupan yang lebih layak.
Pembangunan dan Ekologi. Dua Sisi Mata Uang yang tak Boleh Bertentangan
Kajian Lembaga Advokasi Hutan Lestari (LembAHtari) dan Komunitas Jurnalis Lingkungan Aceh Tamiang (KJL-AT), dalam analisanya menyebutkan bahwa sedimentasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Aceh Tamiang meningkat hingga 25% dalam satu dekade terakhir.
Faktor utamanya adalah deforestasi dan minimnya pengawasan lintas kabupaten terhadap kawasan hulu.
Solusi sesungguhnya tidak hanya membangun jembatan atau tanggul, tetapi mengembalikan keseimbangan ekologi.
Upaya reboisasi, penanaman vegetasi penutup tanah, dan pengelolaan lahan berbasis konservasi harus menjadi prioritas bersama.




