OPINI  

Memorial Living Park dan Korban Pelanggaran HAM di Aceh

Namun, pertanyaan yang mendasar adalah apakah pembangunan memorial ini benar-benar memenuhi rasa keadilan bagi korban dan keluarga mereka.

Banyak di antara mereka yang telah lama menunggu penegakan hukum yang adil terhadap pelaku pelanggaran HAM.

Di satu sisi, keberadaan memorial bisa dilihat sebagai langkah positif, tetapi di sisi lain, tanpa adanya proses hukum yang jelas terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut, inisiatif ini bisa saja dianggap sebagai langkah simbolis belaka.

BACA JUGA...  Memasuki Tahap 300 Besar ADWI, 8 Desa Wisata di Aceh Masih Bertahan

Masyarakat, terutama para korban dan keluarga yang terdampak, sering kali mendambakan keadilan melalui pengadilan yang transparan dan objektif.

Mereka ingin melihat pelaku kejahatan dihukum dan diselesaikannya masalah yang ditumpuk selama bertahun-tahun.

Dalam konteks ini, pembangunan memorial harus dipandang tidak hanya sebagai tindakan restoratif, tetapi juga sebagai satu bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap negara.

BACA JUGA...  Menguatkan Integritas, Menjaga Amanah, Diseminasi SPI dan Penandatanganan Komitmen Bersama

Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk tidak hanya berhenti pada tahap pembangunan memorial, tetapi juga melanjutkan dengan mekanisme hukum yang efektif.

Keberadaan Memorial Living Park memiliki potensi untuk menjadi tempat healing bagi korban, di mana mereka dapat merasakan pengakuan dan penghormatan terhadap tragedi yang dialami.